
DOA adalah harapan, keinginan yang dimintakan kepada Allah karena merasa diri lemah dan hina. Suatu pengharapan agar tercapai sesuatu yang diinginkannya dan terhindar dari segala perkara yang ditakuti dan tidak diinginkannya. Sebagai seorang muslim pastilah sudah tidak asing lagi dengan kata doa dan sudah sering juga melaksanakannya, sudah ratusan bahkan ribuan kali kita berdoa. Ada doa kita yang dikabulkan, ada juga yang belum dikabulkan. Merasa banyak doa-doa kita yang tidak dikabulkan, padahal firmanNya jelas-jelas mengatakan: Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. (QS. Al-Mukmin:60). Lalu kenapa doa kita tidak dikabulkan? Apa yang salah dengan diri ini?
Dalam agama kita, doa adalah bagian dari ibadah, karenanya dianjurkan dan dituntunkan untuk dilaksanakan oleh setiap muslim. Karena dengan berdoa saja itu akan dicatat sebagai suatu ibadah kepada Allah walaupun isi dari doa kita belum dikabulkan. Hakikat doa menurut Dr. Bahi Al-Khauli, ialah perasaan halus yang dihadapkan kepada Allah dengan seluruh anggota badan untuk mengharapkan sesuatu. Ada motivasi dalam dirinya akan sesuatu yang dia sendiri tidak bisa mencapainya tanpa bantuanNya.
Walaupun Allah SWT membuka pintu do’a dengan seluas-luasnya, namun bagi orang yang berbudi tinggi tidak serta merta berdoa minta dikabulkan harapan dan kebutuhannya. Nabi Ayub, contoh salah satu Nabiyullah yang diberikan cobaan sakit dan jatuh miskin hingga bertahun-tahun (18 tahun), selalu sabar dan tabah dalam mengalami penderitaan demi penderitaan bahkan diusir oleh masyarakat dan ditinggal pergi oleh istrinya, Siti Rahmah. Setelah sekian tahun beliaupun akhirnya berdoa dengan malu dan sungkan dalam bahasa yang santun, tidak langsung minta disembuhkan dari sakit dan diangkat dari kemiskinan. “Robbi innii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-roohimiin” (Ya Allah, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang).
Di jaman Nabi, ada juga seorang sahabat yang menjadi Panglima perang pasukan kaum muslimin menuju Persia yakni Sa’ad bin Abi Waqas yang disebut-sebut sebagai mujabud-du’a (apa saja doanya akan diperkenankan Allah). Tapi dia jarang sekali berdoa untuk dirinya sendiri. Jika sakit dia berupaya mencari obatnya dan rela menanggung rasa sakit. Disaat berperang dia juga tidak mengandalkan doanya untuk kemanangan pasukannya tapi dengan menerapkan taktik dan strategi perang. Bahkan ketika Sa’ad bin Abi Waqas tua dan sakit buta, lalu ditanya oleh Abdullah bin Saib: Kenapa Engkau wahai Sa’ad tidak berdoa agar bisa melihat kembali, maka dijawab: “Menerima takdir Allah lebih nikmat bagiku dari pada melihat” Inilah salah satu contoh pribadi muslim yang tinggi akhlaknya dan kuat imannya sebagai wujud pemahaman terhadap ayat Qur’an surat Al-Baqarah ayat 45. (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…)
Namun sudah menjadi tabiat manusia pada umumnya dalam berdoa bersikap isti’jal yakni ingin segera berhasil dan dikabulkan doanya. Bahkan ada yang lebih dari itu yaitu mendesak-desak Allah agar mengabulkan permohonannya. Isi permintaannyapun bersifat egois dan materialis, sebatas rejeki yang banyak, umur yang panjang dan tubuh yang sehat, ilmu yang bertambah, jabatan/kekuasaan yang tinggi. Sehingga sering kita dengar orang berkata : “Sudah tidak kurang-kurang aku berdoa tapi belum juga dikabulkan”.
Agar doa yang kita panjatkan dikabulkan Allah maka ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dilakukan antara lain : pertama dan utama adalah beriman kepadaNya dan memenuhi kewajiban (Aku memenuhi permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu…QS.2:186), kedua berdoa langsung kepada Allah tidak perlu ada perantara (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. QS.1:5), ketiga memperbanyak istighfar (mohon ampunan atas segala salah dan khilaf yang dilakukan), keempat yakin dan optimis bahwa apa yang dimohonkan akan dikabulkan, kelima dalam berdoa harus diikuti dengan usaha/ikhtiar. Sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha bahwa dalam berdoa itu tidak dimaksudkan kecuali mengharapkan hidayahNya untuk melalui jalan dan menemukan sebab-sebab untuk hasil pada yang diinginkan, taufik dan bantuannya. Bila dia memohon agar bertambah ilmunya atau rejekinya maka tidaklah dimaksudkan agar ilmu itu diwahyukan kepadanya dan tidak pula langit mencurahkan uang. Begitu juga dikala sakit tidak lantas datang sesuatu yang luar biasa tapi agar dapat taufik untuk menemukan obatnya atau ikhtiar yang dapat dilakukan supaya sembuh.
Seorang muslim tidak akan pernah berputus asa dari rahmatNya, tetapi yakin akan apa-apa yang Allah janjikan kepada hambaNya. Doa yang senantiasa dia panjatkan pun pasti akan dikabulkan, karena Rasulullah pernah bersabda : Tidaklah seorang Muslim di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa melainkan Allah pasti mengabulkan permintaannya, atau Dia menyingkirkan keburukan darinya (sebagai gantinya) dengan sebesar permintaannya (dari sisi kualitas dan kuantitas), selama dia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau pemutusan silaturrahim’. Maka seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, ‘Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)’. Nabi menjawab, ‘Allah (memiliki karunia) lebih banyak (dari pada permintaanmu). (Sunan Tirmidzi: Kitab ad-Da’awat, Bab fi Intidzar al-Faraj)
Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah SWT baik diwaktu susah maupun senang. Dan jika doa kita belum mustajab, tentu Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lain yang kita butuhkan di saat yang tepat. Karena karunia Allah Swt lebih banyak dari pada permintaan yang kita inginkan.
Dan sudah selayaknya orang-orang yang dikabulkan doanya dan mendapatkan rezeki lebih dari Allah, memanfaatkan rezeki tersebut untuk membuat jalan hidupnya berubah lebih baik. Contohnya adalah dengan selalu bersedekah dan menyisakan rezekinya untuk diinfakkan di jalan Allah SWT dan membantu orang lain yang membutuhkan.
Penulis : Ahmad Husain, S.Ag., M.Sos.
Tidak ada artikel terkait