Cilacap – Semangat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah terasa hangat dan penuh makna dalam Pengajian Akbar yang diselenggarakan di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Kegiatan yang dihadiri warga Muhammadiyah, para guru, siswa, dan masyarakat sekitar tersebut mengusung tema “Hijrah: Jalan Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat.”
Pengajian menghadirkan pembicara utama Assoc. Prof. Dr. Darodjat, S.Ag., M.Ag., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), sekaligus Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Banyumas.
Suasana pengajian semakin meriah dan mencerahkan dengan hadirnya mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yakni Mamoudou Saangare asal Mali dari Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris serta Ahmed Fawzi asal Sudan dari Program Studi Teknik Sipil. Kehadiran mahasiswa mancanegara tersebut menjadi simbol bahwa dakwah Muhammadiyah telah menjangkau masyarakat global dan menjadi ruang persaudaraan Islam lintas bangsa.
Dalam tausiyahnya, Darodjat menjelaskan bahwa hakikat hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dengan landasan keimanan dan ketakwaan.
Beliau mengutip firman Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 218).
Menurut Tafsir As-Sa'di, ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang menggabungkan iman, hijrah, dan perjuangan di jalan Allah merupakan golongan yang paling berhak memperoleh rahmat Allah. Harapan mereka kepada rahmat-Nya bukan sekadar angan-angan, melainkan disertai amal nyata, pengorbanan, serta kesungguhan dalam menegakkan agama.
“Hijrah yang mendatangkan kesuksesan harus dibangun di atas fondasi iman. Kesuksesan dunia dan akhirat tidak lahir dari keberuntungan semata, tetapi dari keimanan, ikhtiar, pengorbanan, dan pertolongan Allah,” ujar Darodjat.
Hijrah Nabi Mengajarkan Usaha dan Doa Secara Maksimal
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan bahwa keberhasilan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan bukti bahwa Islam mengajarkan pentingnya usaha dan doa secara maksimal.
Rasulullah SAW tidak melakukan perjalanan secara spontan, tetapi menyusun strategi yang cermat. Beliau menunjuk Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan yang terpercaya meskipun saat itu belum memeluk Islam. Putra Abu Bakar, Abdullah bin Abu Bakar, bertugas mengumpulkan informasi dari Makkah dan menyampaikannya kepada Rasulullah SAW. Sedangkan putri Abu Bakar, Asma' binti Abu Bakar, bertanggung jawab menyiapkan dan mengantarkan makanan.
Sementara itu, budak Abu Bakar bernama Amir bin Fuhairah menggembalakan kambing melewati jalur yang dilalui Abdullah bin Abu Bakar untuk menghapus jejak kaki sehingga keberadaan Rasulullah SAW tidak diketahui oleh kaum Quraisy.
“Ini menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan perencanaan. Rasulullah SAW adalah teladan dalam menggabungkan iman, strategi, kerja sama, dan ikhtiar yang maksimal,” terang Ketua MPKS PDM Banyumas tersebut.
Menurutnya, keberhasilan hijrah Nabi melahirkan peradaban besar Islam di Madinah. Dari kota tersebut, dakwah berkembang ke berbagai penjuru dunia hingga sampai ke Indonesia dan melahirkan gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah.
Spirit Hijrah untuk Kemajuan Dakwah Muhammadiyah
Darodjat menegaskan bahwa semangat hijrah perlu terus dihidupkan dalam gerakan Muhammadiyah. Hijrah berarti bergerak dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, serta dari perpecahan menuju persatuan umat.
“Kalau ingin sukses seperti Rasulullah SAW, maka warga Muhammadiyah harus memiliki iman yang kuat, visi yang jelas, perencanaan yang matang, kerja sama yang solid, serta semangat beramal yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak cukup berhenti di tingkat pusat, wilayah, daerah, dan cabang, tetapi harus mengakar hingga tingkat ranting. Sebab, ranting merupakan ujung tombak pelayanan umat dan sarana menebarkan rahmat bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan ranting yang hidup akan menghadirkan masjid yang makmur, pendidikan yang maju, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Semua itu merupakan bagian dari amal saleh yang menjadi bekal menuju surga Allah SWT.
“Kalau ingin sukses dunia dan akhirat, maka jadilah orang yang beriman, berhijrah menuju kebaikan, dan terus berjihad melalui amal usaha serta dakwah yang memberi manfaat bagi sesama. Muhammadiyah harus terus hadir sebagai gerakan ilmu, dakwah, dan pelayanan yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya.
Pengajian Akbar Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme jamaah. Kehadiran mahasiswa internasional UMP dari Afrika semakin memperkuat semangat persaudaraan Islam universal dan menjadi bukti bahwa nilai-nilai hijrah Rasulullah SAW tetap relevan dalam membangun peradaban yang maju, berkemajuan, serta berorientasi pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Melalui momentum tahun baru Islam ini, warga Muhammadiyah diharapkan menjadikan hijrah sebagai gerakan perubahan yang nyata, sehingga mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, beramal, dan berkontribusi bagi kemajuan umat, bangsa, serta peradaban manusia. (*)