Figur
MENGENAL KOMPETENSI PENERJEMAHAN (TRANSLATION COMPETENCE)
Kamis 14 September 2017      Figur
MENGENAL KOMPETENSI PENERJEMAHAN (TRANSLATION COMPETENCE)

Condro Nur Alim

Fakultas Sastra

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

Kajian penerjemahan (translation studies) sebagai sebuah disiplin ilmu yang relatif baru, saat ini telah mendapatkan tempat dalam khasanah keilmuan di Indonesia. Salah satu tujuan dari kajian penerjemahan adalah untuk mengembangkan kompetensi penerjemahan (translation competence). Mata kuliah perjemahan (translation) bahkan telah menjadi salah satu mata kuliah wajib yang diajarkan di program studi bahasa Inggris di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini didasarkan oleh keyakinan para ahli bahwa kemampuan menerjemahkan merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Oleh karena itu, keterampilan terjemahan saat ini dianggap sama pentingnya dengan keterampilan bahasa lain, seperti berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing) (Nadar, 2005). Terlebih lagi, sebagai akibat dari globalisasi, permintaan akan layanan terjemahan di Indonesia, saat ini adalah cukup tinggi, terutama terjemahan dari dan ke dalam bahasa Inggris.

 

Secara umum penerjemahan didefinisikan sebagai transfer teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dalam konteks ini, terjemahan minimal melibatkan dua bahasa (Catford, 1965). Selanjutnya, Catford menyatakan bahwa terjemahan adalah penggantian materi tekstual dalam satu bahasa (bahasa sumber) oleh materi tekstual yang setara dalam bahasa (bahasa sasaran). Dengan demikian penerjemahan dapat dipahami tidak hanya melibatkan pengiriman pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran tetapi juga untuk melakukan berbagai penyesuaian yang diperlukan sehingga hasil terjemahan dapat diterima oleh pembaca bahasa sasaran.

 

Dengan mengadopsi pendekatan yang sama seperti dilakukan Catford (1965), Bell (1991) mendefinisikan terjemahan sebagai 'ekspresi lain dalam bahasa sasaran sesuatu yang telah dinyatakan dalam bahasa sumber, dengan mempertahankan kesetaraan semantik dan gaya’. Menurut definisi ini, teks yang diterjemahkan harus menunjukkan 'kesamaan' semantik dan gaya dengan teks asli (Bell, 1991).

 

Kompetensi Penerjemahan

Dari beberapa definisi terjemahan di atas dapat diketahui bahwa penerjemahan merupakan kegiatan yang kompleks karena melibatkan setidaknya dua bahasa yang berbeda dengan sistem bahasa yang berbeda dan latar belakang budaya. Hal ini juga melibatkan berbagai jenis proses kognitif yang terjadi selama tugas penerjemahan. Oleh karena itu, terjemahan juga bukan sekadar tindakan komunikasi dan operasi tekstual karena terjemahan juga merupakan hasil dari proses kognitif yang dilakukan oleh penerjemah (Hurtado Albir & Alves, 2009).

 

Oleh karena itu, agar dapat menerjemahkan suatu teks dengan baik, seorang penerjemah memerlukan keahlian tertentu dalam penerjemahan atau sering disebut sebagai translation competence. Salah satu model kompetensi penerjemahan yang dianggap paling lengkap dikemukakan oleh kelompok PACTE (Process of Acquisition of Translation Competence and Evaluation), sebuah kelompok yang terdiri para ahli penerjemahan yang memusatkan kajiannya pada pengembangan kompetensi penerjemahan, evaluasi penerjemahan serta pengajarannya. PACTE (2011) menyatakan bahwa kompetensi penerjemahan terdari dari beberapa sub-kompetensi, yaitu:


Kompetensi Bilingual

Kompetensi bilingual adalah pengetahuan yang diperlukan untuk berkomunikasi dalam dua bahasa. Karena terjemahan melibatkan dua bahasa yang berbeda dengan tipologi dan sistem yang berbeda, pengetahuan penerjemah tentang kedua bahasa memainkan peran penting dalam mengatasi masalah linguistik selama proses penerjemahan. Kompetensi ini berkaitan dengan penguasaan baik bahasa sumber maupun bahasa target.


Kompetensi extralinguistik.

Kompetensi ini terutama berkaitan dengan pemahaman penerjemah tentang budaya kedua bahasa, pengetahuan domain tertentu dan pengetahuan ensiklopedik mereka. Memahami aspek budaya dari bahasa adalah penting bagi seorang penerjemah, karena teks diproduksi dalam konteks sosio-kultural tertentu. Kompetensi extralinguistik memungkinkan penerjemah untuk membuat interpretasi yang jelas tentang unsur-unsur atau konten tertentu dari teks bahasa sumber, sehingga penerjemah dapat menemukan kesetaraan istilah yang sesuai dalam dalam bahasa sasaran.


 Kompetensi Instrumental

Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan dalam menggunakan berbagai alat bantu penerjemahan (translation resources), seperti kamus atau sumber informasi lainnya, serta kemampuan untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk membantu proses penerjemahan. Perkembangan teknologi informasi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktek terjemahan. Contoh instrumen teknologi yang dapat digunakan oleh penerjemah adalah pemanfaatan sumber-sumber daring dan korpora elektronik. Kompetensi dalam menggunakan alat bantu penerjemahan akan membantu penerjemah bekerja lebih akurat.


Kompetensi Stratejik

Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah penerjemah selama proses penerjemahan. Kompetensi ini berfungsi untuk mengontrol proses penerjemahan. Dengan memiliki kompetensi ini, penerjemah akan mampu merencanakan proses dan melaksanakan praktik penerjemahan dengan tepat. Kompetensi stratejik juga membantu penerjemah dalam mengevaluasi proses dan hasil penerjemahan. Kompetensi ini juga berpengaruh dalam mengkoordinasikan Kompetensi lainnya agar penerjemah mampu menerjemahkan dengan kualitas yang lebih optimal.


Kompetensi Psiko-fisiologis

PACTE (2011) juga mengidentifikasi sejumlah karakteristik individu penerjemah dalam model kompetensi penerjemahan mereka. Komponen ini terutama berhubungan dengan kondisi psiko-fisiologis penerjemah, seperti persepsi, perhatian, emosi, rasa ingin tahu intelektual, berpikir kritis, kreativitas dan penalaran logis, analisis dan sintesis. Kondisi psiko-fisiologis sangat berpengaruh dalam praktek penerjemahan, karena terjemahan adalah kegiatan yang kompleks yang sangat bergantung pada proses kognitif.


Pengetahuan tentang terjemahan (translation notion)

Kompetensi ini terutama berkaitan dengan pengetahuan tentang teori dan praktek terjemahan. Untuk mengetahui tentang bagaimana fungsi terjemahan, penerjemah perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang teori terjemahan. Kurangnya pengetahuan tentang teori terjemahan akan mempengaruhi penerjemah selama proses penerjemahan dengan membatasi pemikiran tentang bagaimana melakukan penerjemahan yang baik.

 

Penerjemahan merupakan kegiatan yang kompleks yang tidak hanya berkaitan dengan aspek bahasa (linguistik) saja, namun juga terkait dengan faktor budaya dan faktor-faktor lainnya (ekstralinguistik). Oleh sebab itu, untuk dapat menerjemahkan dengan baik, seorang penerjemah perlu memiliki kompetensi penerjemahan (translation competence) yang terdiri dari beberapa sub-kompetensi yang saling terkait satu dengan lainnya. Kompetensi penerjemahan  merupakan keahlian dasar yang perlu dimiliki oleh seorang penerjemah, yang meliputi kompetensi linguistik, ekstralinguistik, instrumental, stratejik, psiko-fisiologis serta pemahaman mengenai penerjemahan (translation notion).

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini