Oleh Elok Sukmawati
(Staff LPPI UMP)
Masih ingat film Warkop DKI. Pastinya kita akan ingat dengan kalimat tertawalah,
sebelum tertawa dilarang, pastinya generasi tempo dulu teringat kembali. Memang betul !!!
tertawa dan bercanda sangat diperlukan karena membebaskan seseorang dari beban yang
terasa berat, bisa menghibur apabila seseorang sedang sedih, meredakan seseorang yang
sedang marah, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, terkadang di dalam bercanda
muncul benih persahabatan dan persaudaraan. Seseorang apabila dalam keadaan bahagia
maka akan tertawa atau ketika seseorang dalam situasi yang lucu saat bergurau dengan
sahabat sahabatnya, maka tertawa.
Tertawa sangat manusiawi serta alamiah, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam
surat AN-Najm ayat 43 Artinya :“ Dialah (Allah) yang telah menjadikan orang tertawa dan
menangis.” Jadi, tertawa merupakan sifat dasar bagi manusia dan tidak bisa dihilangkan karena
Allah SWT menciptakan manusia dengan sifat tertawa dan menangis.
Namun kita sebagai orang Islam, tentunya tidak boleh berlebihan dalam tertawa,
apalagi jika tertawa sebagai sebuah alasan utama menghilangkan stres, beban hidup yang
sedang di derita sangatlah tidak tepat. Tapi jika pada akhirnya setelah tertawa lepas berkumpul
bersama teman atau saudara, setelah sendirian masih merasa sedih stres artinya tertawa
bukanlah Obat yang ampuh menjawab persoalaan yang sedang di derita didalam hidup kita.
Sebagai Pengingat kita semua, jika mengalami persoalaan hidup, bolehlah kita
menghibur diri dengan tertawa untuk melepas semua. Tapi tidaklah baik tertawa menjadi solusi
utama. Aisyah istri Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa: “Aku belum pernah melihat baginda
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa terbahak- bahak sehingga terlihat tenggorokan
beliau. Beliau biasanya hanya tersenyum. (Hadist Bukhari Muslim)
Yang seharusnya dilakukan oleh kita, ketika mengalami permasalahan hidup adalah
mencari ketenangan hati dan pikiran bukan sekedar tertawa. Mungkin hanya akan hilang
sementara beban hidup yang tengah diderita, namun dalam hati dan pikiran belumlah
mengalami ketenangan yang sebenarnya, untuk itu pendekatan yang harus dilakukan jika kita
mengalami persoalaan hidup adalah dengan bersandar kepada Allah SWT surat Al-Fath: 4.
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk
menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).”
Tiga hal yang bisa menjadi cara supaya hati kita menjadi tenang dan hidup nikmat bahagia :
1. Mendekatkan pada Allah SWT dengan ikhlas.
Mulailah dengan merenungi kebesaran ALLah, bawasanya kita sebagai manusia sangatlah
kecil. Kita sebagai manusia harus terus berikhtiar dan mengingat-Nya. Sholat lima waktu merupakan kunci utama sebagai muslim yang baik. Sholat sunah tahajud, dhuha serta
berdoa memohon ampunan kepada ALLah SWT akan menenangkan hati yang sedang
gundah gulana, membaca Al Qur’an dan memahami maknanya bisa menjadi sumber dalam
mencari solusi dari permasalahan yang sedang diderita, puasa dan bersodaqoh bisa menjadi
cara melatih kita untuk menahan hawa nafsu, mensucikan dan menenang hati serta pikiran
kita.
2. Selalu berbaik sangka atas segala keputusan-Nya
Meragukan keputusan terbaik dari Allah merupakan cara pandang yang salah, karena akan
menjadikan diri kita gelisah, karena sepertinya tidak percaya akan kebesaran ALLAH SWT.
3. Bersyukur terus menerus apa yang sudah diberikan oleh Allah
Bersyukur adalah kunci kenikmatan hidup sejatinya. Kekayaan, jabatan dan materi lainnya
bukanlah menjadi prasyarat utama rasa syukur ada. Tetapi rasa syukur itu hadir ketika
seseorang merasa cukup apa yang telah iya dapatkan saat ini. Tidak mengejar sesuatu
secara berlebihan. Bersyukur itu selalu menempatkan diri kita untuk selalu memberi
“Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”.