Hikmah
Para Saksi Alloh di Muka Bumi
Jumat 23 Juli 2021      Hikmah
Para Saksi Alloh di Muka Bumi

 

Akhir-akhir ini berita dukacita memenuhi laman media sosial, televisi, dan media cetak. Pengumuman lewat pengeras suara di masjid atau mushala sering kali menyita perhatian. Suara sirine ambulans menuju ke pemakaman pun bersahut-sahutan.

Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (QS Ali Imran [3]: 185). Kematian tidak selalu datang karena sebab, seperti sakit atau kecelakaan. Namun, ia terjadi di saat ajal tiba mengakhiri kehidupan (QS al-Munafiquun [63]: 11).

Disaat nyawa sudah terpisah dengan jasadnya, di situlah kewajiban-kewajiban bagi yang masih hidup dimulai menyangkut tindakan berikutnya kepada si mayit. Meliputi memandikannya, mengkafani, mensholati hingga menguburkannya. Hanya saja di masa pandemi sekarang ini bagi yang meninggal karena covid-19, proses pemulasaran jenazahnya disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Setelah semua selesai, sebelum mayit dibawa ke pemakaman, hal yang lumrah terjadi di lingkungan kita adalah meminta persaksian baik, memohon bagi para hadirin yang masih mempunyai sangkut paut urusan duniawi maupun ukhrowi dengan si mayyit agar menembusi dan menjelaskan perkaranya kepada pihak keluarga, yang biasanya hal ini dilakukan oleh perwakilan keluarga, atau tokoh masyarakat setempat.

Persaksian baik kepada para hadirin tentang perilaku mayit waktu di dunia merupan kebiasaan yang baik yang patut terus dilestarikan karena juga termasuk kearifan lokal kita. Hal ini bukanlah tanpa dasar, Nabi sendiri bersabda :

“Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke surga”, maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : “walau tiga”, lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : “walau dua”. Lalu kami tak bertanya jika hanya satu” (HR. Bukhari)

Dengan demikian ketika ada persaksian baik dari para hadirin diharapkan akan menolong dan mempermudah jalan panjang sang mayit di akhirat sana.

Selain itu, kita sebagai yang masih hidup sangat dianjurkan supaya berprasangka baik kepada siapapun, bahkan kepada si mayit. Entah kita memang benar-benar tahu perihal kenyataannya tatkala masih hidup ataupun tidak. Karena hanya Allah-lah yang tau baik buruknya seseorang, apalagi di saat sebelum kematian menjemput, yang merupakan saat penentu keselamatan atau celakanya seseorang.

Hanya saja kita tidak boleh memberikan persaksian yang baik kepada seseorang yang jelas-jelas fasik, melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan.

Suatu ketika para sahabat pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi SAW bersabda: wajabat (pasti baginya),Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda: wajabat (pasti baginya), Maka Umar ibn al-Khatthab ra bertanya: Apa yang dimaksud pasti baginya? Beliau menjawab: (Jenazah pertama) ini kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya (masuk) surga sedang (jenazah kedua) ini kalian sebut dengan keburukan, maka pasti baginya (masuk) neraka, karena kalian adalah para saksi Allah di muka bumi. (HR. Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan bagaimana eratnya hubungan muslimin – muslimat, satu sama lain menyaksikan kebaikan saudaranya maka itu menjadi dalil yang kuat baginya di hadapan Allah untuk diselamatkan dari kemurkaan Allah. Semakin banyak orang menyaksikan ia berbuat baik di muka bumi maka semakin kuat bahwa ia kelak akan masuk surganya Allah.

Semoga kita semua bisa meraih husnul khotimah di akhir hidup kita kelak, amiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis : Muammar, Lc.,M.H.

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini