Hikmah
MELANGKAH DENGAN ILMU DAN BERPIJAK DENGAN KEIMANAN
Jumat 23 Oktober 2020      Hikmah
MELANGKAH DENGAN ILMU DAN BERPIJAK DENGAN KEIMANAN

Islam hadir sebagai "Jalan Kebenaran".  Tentu islam tidak hanya sebatas ritual saja, namun sebagai pedoman, panduan hidup manusia. Ketika kita memahami secara keseluruhannya, akan menuntun kita menuju kebaikan. Dalam islam,kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” 

(HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Menuntut ilmu adalah wajib bagi seluruh muslim dan muslimah. Ilmu yang menjadi prioritas disini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Ilmu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala melalui perantara Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallamberupa keterangan dan petunjuk. Bahkan kebutuhan akan ilmu melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbalrahimahullahdalam Kitab Maaarijus Saalikiin karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziah rahimahullah berkata,“Kebutuhan manusia terhadap ilmu (syar’i) itu melebihi kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Hal itu karena seseorang membutuhkan makanan dan minuman hanya sekali atau dua kali (saja), adapun kebutuhannya terhadap ilmu (syar’i) itu sebanyak tarikan nafasnya.” (Madaarijus Saalikiin, 2/440)

Orang yang berilmu tidak berarti ia beriman. Tapi orang yang beriman adalah orang yang berilmu. Tanpa ilmu kita tidak bisa menjadi orang yang beriman. Orang yang berilmu saja tidak bisa dikatakan beriman sepenuhnya, apalagi jika kita tidak memiliki ilmunya. Pentingnya kita menuntut ilmu bukan secara kuantitas, namun kualitas. Bukan seberapa banyaknya ilmu yang kita dapat, namun seberapa jauh kita mengamalkan ilmu tersebut. Akan menjadi sia-sia jika kita belajar tanpa mengamalkannya. Salah satu yang Allah cintai yaitu amalan yang sedikit namun kontinu. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783).

Namun bukan serta merta kita hanya berpatok dengan ilmu yang sudah kita dapat saja. Karena pada hakekatnya belajar itu tidak ada batasnya. Artinya tidak ada kata berhenti untuk belajar. “tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat”. Raihlah ilmu sampai ajal menjemput.

Salah satu pentingnya ilmu juga menjadi jembatan untuk membentuk perilaku/karakter manusia yang  beradab serta berakhlak mulia. Imam Ghazali radiyallahu‘anhu mengatakan akhlak ialah suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang menampilkan perbuatan-perbuatan dengan senang tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian. Apabila perbuatan yang keluar itu baik dan terpuji menurut syarak dan akal, perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia. Sebaliknya apabila keluar perbuatan yang buruk, ia dinamakan akhlak yang buruk. Dahulu islam hadir untuk menyempurnakan agama, memperbaiki tatanan dunia yang dimana pada masa itu merupakan masa kegelapan/jahiliyah. Pada masa itu perempuan-perempuan seakan tidak ada harga dirinya, dan dianggap rendah. Perdagangan budak merajalela, banyak manusia yang dirampas kehormatannya. Bisa dikatakan hukum pada masa itu adalah hukum rimba. Karena kehidupan di zaman jahiliyah tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Atau bahkan lebih parah lagi. Hingga suatu masa diutus nabi terakhir yaitu nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wassalam sebagai utusan Allah. Nabi sallallahu'alaihi wassalam bersabda “Sesungguhnya aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (H.R Bukhari). Nabi Muhammad kala itu diutus oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk memperbaiki akhlak manusia. Membawa ajaran Islam sebagai pedoman hidup, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.

Dunia yang terus berkembang dengan teknologi yang tersedia memudahkan kita dalam melakukan berbagai aktivitas, salah satunya menjadi media belajar. Penggunanya pun dari berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Dengan adanya teknologi memudahkan kita untuk berinteraksi dan menemukan berbagai macam informasi. Seharusnya dengan banyaknya kemudahan-kemudahan ini tidak melunturkan semangat kita dalam menuntut ilmu. Tidak pula kita bermalas-malasan atau menunda-nunda.  Perkembangan zaman ini pula menjadi tantangan yang cukup berat bagi kita. Dengan banyaknya kemudahan khususnya dalam mengakses informasi yang beredar kita harus pintar memilah-milah mana informasi yang layak dan mana yang tidak. Layak dalam artian informasi tersebut valid, tidak mengundang adu domba, dan memiliki sumber yang jelas. Yang menjadi persoalan adalah informasi ini tidak bisa kita filter kalau diri kita sendiritidak memiliki kesadaran untuk cerdas dalam menggunakan media tersebut. Karena informasi di media sifatnya sangat bebas. Mulai dari informasi yang bermanfaat sampai yang negatif pun ada.  Sehingga kita harus bijak dalam menggunakan sarana ini.Kontrol ada pada diri kita masing-masing.Ketika kita menggunakan media dengan bijak, akan banyak manfaat yang bisa kita dapat sekaligus menjadi sarana untuk belajar.

Sami’na wa ato’na,kami dengar dan kami taat.Itulah yang seharusnya menjadi motto hidup kita, slogan muslim yang beriman. Tidak ada yang lebih bermanfaat selain kita diberi kemudahanuntukmenuntut ilmu, kenikmatan untukberibadah, dantaat kepada Allah.Sertatidak ada pula yang lebih membahayakan manakala diri kita terus memanjakan hawa nafsu kita. Secara lisan ingin berubah namun hati dan jiwa masih ingin menikmati dunia.Raga yang masih belum bergerak walaupun hanya sekedar pergi solat berjamaah di masjid, mulut yang masih berat untuk melantunkan dzikir atau ayat AL-Qur’an, atau telinga yang masih enggan mendengar suara ustadz/ustadzah dalam belajar ilmu syar’i. Seringkali kita beralasan karena sibuk sehingga tidak ada waktu untuk belajar. Padahal jika kita renungkan kembali, kita memiliki waktu sehari 24 jam, apakah tidak cukup untuk meraih ilmu di waktu-waktu senggang kita? Karena belajar tidaklah harus berjam-jam lamanya, hitungan menit pun bisa. Karena yang terpenting kualitas bukan kuantitas. Maka yang harus dilakukan agar hati kita tetap diteguhkan diatas agama-Nya adalah meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Minta kepada-Nya ilmu yang bermanfaat serta kemudahan dalam belajar. Karena sebaik-baiknya tempat meminta adalah hanya kepada Allah. “hasbunallah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)(QS. Ali ‘Imron: 173). Semoga Allah senantiasa memberi kita keselamatan dan pertolongan dalam menjalankan peran di dunia maupun di akhiratdan senantiasa dimudahkan untuk meraih kebenaran.. Aamiin

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini