Hikmah
BELAJAR SAINS DI SD ITU MENYENANGKAN
Minggu 29 Oktober 2017      Hikmah
BELAJAR SAINS DI SD ITU MENYENANGKAN

Oleh : Subuh Anggoro& Sri Harmianto

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Pembelajaran IPAatau sainsmerupakan salah satu mata pelajaran yang masih dianggap sulit oleh siswa sekolah dasar. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan dari pembelajaran IPA. IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Pembelajaran IPA sejak dini diharapkan siswa memiliki kemampuan untuk menanya(ask the question),mengumpulkan informasi(collect information),mampu mengorganisasi dan mengujicoba ide yang dimiliki(organize and test ideas),dapat mengatasi masalah dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari(to problem solve and apply what we learn)Dengan demikian diharapkan akan terbangun rasa percaya diri yang tinggi(building confidence), kemampuan komunikasi yang baik(developing communication skills) dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan tempat tinggalnya(making sense of the world around). Kemampuan-kemampuan tersebut akan dapat diperoleh apabila siswa merasa bahwa IPA berlangsung secara inkuiri dan kontektual dengan kehidupan nyata.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Rohman, S.Pt, Kepala MI Muhammadiyah Cipete, Ibu Wainah, S.Pd.I, Kepala MI Muhammadiyah Pasirmuncang dan Bapak Samsuri, S.Pd.I, Ketua K3S SD/MI Muhammadiyah dan observasi dari 2 MI Muhammadiyah di Kabupaten Banyumas, permasalahan yang terjadi adalah karena dalam proses pembelajaran, sebagian besar guru berpendapat metode ceramah adalah yang paling efektif mengingat banyaknya materi yang harus diberikan. Padahal agar proses pembelajaran IPA menyenangkan membutuhkaninquiry learning processdanhands-on activities based on daily life.

Penggunaan metode dan media pembelajaran tepat, menarik dan menyenangkan membuat siswa cenderung semakin giat belajar IPA. Hasil-hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggunaan alat peraga diketahui dapat meningkatkan sikap siswa dalam mempelajari IPA di SD dan SMP.

Melalui kegiatanhands-on exercisesdanrole playing,siswa kelas mendapatkan peningkatan aspek mengingat, memahami, mengaplikasikan yang lebih tinggi.Hasil penelitian menyebutkan bahwa 99% siswa senang belajar Sains melaluihands-on activity.Disamping itu 99,3% siswa menyatakan bahwa mereka ingin belajar Sains lebih banyak di masa depan. Disamping itumelaluihands-on activities base on daily life membuat siswa merasakan belajar Sains lebih bervariasi, menyenangkan dan meaningful.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode ceramah atau diskusi tingkat keberhasillannya lebih rendah dibandingkan apabila menggunakan pendukung alat peraga. Siswa lebih baik dalam memahami dan mengingat konsep IPA ketika minat siswa tinggi atau mereka mendapatkan jawaban secara mandiri melalui kegiatan inkuiri.

Untuk mengatasi kondisi seperti itu dibutuhkan guru yang kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran, khususnya di bidang IPA. Hal itu sangat diperlukan karena kemampuan mengembangkan proses pembelajaran merupakan cerminan guru yang profesional. Dengan pemahaman dan pengalaman melaksanakan inquiry learning processdanhands-on activities based on daily life.khususnya di bidang mata pelajaran IPA, diharapkan pemahaman peserta didik dapat meningkat yang bermuara pada meningkatnya prestasi belajarnya.

Tim Ipteks bagi Masyarakat (IbM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto bekerjasama dengan SDIT Muhammadiyah Cipete Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas telah melakukan pembuatan video pembelajaran tematik sains yang menyenangkan (Joyful Thematic Science). Adapun rencana pembelajaran yang digunakan merupakan adaptasi dari buku kurikulum 2013 tema Cita-citaku. Sedangkan percobaan yang dilakukan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat siswa maupun di sekitar sekolah. Tiga sub tema yang digunakan yaitu (1) Dokter dan Stetoskop; (2) Musisi dan Alat Musik; dan (3) Erosi dan akibatnya. Guru model yang terpilih yaitu Irma Nurlaeli, S.Pd (Dokter dan Stetoskop); Ratih Widyaningrum, S.Pd (Musisi dan Alat Musik); dan Sri Mulyati, S.Pd (Erosi dan Akibatnya).

Media pembelajaran yang digunakan antara lain selang, T hub, corong minyak tanah, balon dan selotip untuk sub tema Dokter dan Stetoskop. Kemudian botol kaca bekas, ember, gelas dan sendok untuk sub tema Musisi dan Alat Musik. Sedangkan untuk sub tema Erosi dan Akibatnya menggunakan botol plastik bekas, media tanah, dan ember.

Pembelajaran tematik sains yang dilakukan oleh yang dilakukan bersesuaian dengan ciri-ciri joyful learning antara lain: adanya lingkungan yang rileks, menyenangkan, tidak membuat tegang (stress), aman, menarik, dan tidak membuat siswa ragu mengaplikasikan sesuatu meskipun keliru untuk mencapai keberhasilan tinggi. Ciri lainnya adalahketersediaan materi pelajaran dan metode yang relevan, terlibatnya semua indera dan aktivitas otak kiri dan kanan, situasi belajar yang menantang (challenging) bagi siswa  untuk mengeksplorasi materi yang sedang dipelajari, serta situasi belajar emosional yang positif ketika para siswa belajar bersama, membuat suasana belajar lebih menyenangkan.

Siswa merasakan suasana pembelajaran yang membangkitkan minat belajar, rileks, dan menarik sehingga membuat siswa semangat dan berkonsentrasi tinggi selama pembelajaran. Adanya keterlibatan penuh dalam pembelajaran ditunjukkan dengan kemauan untuk menyediakan sendiri peralatan dan pembagian tugas dalam kelompok secara mandiri dengan gembira.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mendapatkan pengalaman kognitif yang positip terhadap pembelajaran melalui materi pelajaran yang bermanfaat, metode dan media pembelajaran yang tepat, serta guru yang baik. Apabila hal tersebut didukung pengalaman afektif melalui materi pelajaran yang menarik, metode dan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan serta antusias dan menyenangkan, membuat siswa memiliki keinginan atau kecenderungan positip untuk mempelajari Sains (pengalaman konatif).

Siswa lebih mudah mengingat dan memahami dengan baik apa yang mereka pelajari apabila hal itu menarik atau mengandung bagian yang membuat mereka harus menemukan sendiri jawabannya.  Disamping itu siswa lebih mudah mengingat dan memahami sebuah konsep dengan cara bermain atau melakukan.Ketika ketertarikan siswa tinggi, stres dan kegelisahan akan menurun, sehingga siswa lebih dapat menerima kesalahan mereka dan mau mencoba kembali. Dengan demikian karena fokus mereka meningkat, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diberikan guru.

Guru memiliki hubungan yang sangat erat dengan siswa.  Siswa senang berbagi suka dan duka dengan guru. Siswa sangat mempercayai guru dan tidak takut mengekspresikan harapan dan keinginan mereka. Di Dirgantara School India, guru  memperhatikan  kemampuan siswa sejak awal dan memberikan tugas berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa.

Joyful Learning merupakan metode pembelajaran yang melibatkan rasa senang, bahagia, dan nyaman dari pihak-pihak yang sedang berada dalam proses belajar mengajar. Di sini terdapat keterikatan cinta dan kasih sayang antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik.Keterikatan hati di dalam proses belajar mengajar akan membuat masing-masing pihak berusaha memberikan yang terbaik untuk menyenangkan pihak lain. Guru dengan semangat menggebu-gebu akan berusaha optimal memimpin kelas dengan cara yang paling menarik, sedangkan peserta dengan antusias dan berlomba-lomba ikut aktif ambil bagian dalam setiap kegiatan. Dengan demikian, Joyful Learning menjadi sarana yang membuat guru maupun peserta didik menjadi betah menjalani sesi demi sesi pelajaran sehingga hasilnya akan maksimal.

Ketika pelajaran bersifat membosankan, tidak relevan dengan kehidupan mereka, atau membingungkan akan menimbulkan kondisi stres bagi siswa. Dalam kondisi seperti ini, informasi tidak dapat melewati amigdala untuk menuju tingkat berpikir yang lebih tinggi serta pusat memori otak. Apabila kondisi ini berlangsung lama, maka bisa membawa kepada kerusakan dan kehilangan hubungan sinaps-sinaps  dan dendrit-dendrit penting pada hippocampus. Informasi baru tidak bisa mencapai wilayah otak yang menjadi tempat pemrosesannya, yang berhubungan dengan dengan pengetahuan sebelumnya, serta penyimpanan untuk pemanggilan pada waktu berikutnya. ([email protected])

 

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait