
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Q.S. Ar-Ra’du: 28)
Salah satu penyakit serius yang tengah melanda masyarakat modern dewasa ini adalah kegamangan dalam menjalani hidup. Hal ini disebabkan karena kondisi batin yang selalu gelisah, jiwa yang tidak tenang, serta hati yang penuh kekhawatiran dan kecemasan.
Padahal jika dilihat dari kehidupan ekonominya, mereka yang mengalami kegelisahan batin ini bukanlah orang-orang yang kekurangan. Bahkan, banyak di antara mereka yang hidup bergelimang harta. Dari sisi materi semua tercukupi, bahkan berlebih, tetapi dari sisi ruhani, mereka mengalami kekeringan dan kegersangan. Jasmani mereka sehat, tapi ruhani mereka sakit. Raga mereka kuat, tapi jiwa mereka rapuh.
Pada umumnya, mereka yang mengalami kegelisahan batin ini akan mendatangi psikiater atau psikolog untuk berkonsultasi tentang persoalan batin yang tengah dialaminya. Mereka berharap sang psikiater atau psikolog akan memberikan solusi untuk menyelesaikan persoalan batin yang sedang dihadapinya.
Namun di antara mereka yang mengalami kegelisahan batin ini menempuh jalan lain, seperti fenomena baru yang menjadi perbincangan hangat di tanah air beberapa hari terakhir ini yaitu trend adopsi spirit doll atau boneka arwah oleh sebagian artis. Boneka arwah tersebut diperlakukan layaknya anak sungguhan dengan diberi pakaian bagus serta aksesoris. Bahkan salah seorang selebritis memiliki jadwal rutin untuk memandikan dan menjemur spirit doll yang diadopsinya.
Sesungguhnya, jika orang-orang yang mengalami keresahan jiwa, kegelisahan batin, serta ketidaktenangan dalam hatinya mau kembali kepada ajaran Islam, pasti mereka akan menemukan jawaban atas persoalan yang tengah dihadapinya.
Islam mengajarkan sebuah cara efektif untuk menghilangkan keresahan jiwa, kegalauan hati dan kegelisahan batin yaitu dengan berzikir. Berzikir berarti mengingat atau menyebut nama Allah SWT. Secara umum, zikir adalah semua amal atau perbuatan baik yang lahir maupun batin, yang mengantarkan seseorang untuk mengingat Allah dan mendekat (taqarrub) kepada-Nya.
Imam Nawawi mengatakan, zikir itu dapat dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Akan tetapi lebih utama (afdhal) bila dilakukan dengan keduanya. Tetapi, jika ingin memilih di antara kedua hal itu, maka zikir dengan hati lebih afdhal.
Zikir dalam arti mengingat adalah menyadari dan mengakui sepenuh hati segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, baik berupa rizki yang tampak secara lahir, seperti: harta, anak (keturunan), rumah, kendaraan dan segala hal zahir lainnya, maupun yang tidak tampak atau bersifat abstrak, seperti kesehatan, kemudahan, kebahagiaan, ketenangan dan yang lainnya.
Adapun zikir dalam arti menyebut nama Allah adalah dengan melafalkan kalaimat-kalimat thoyyibah seperti kalimat tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illallah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah), hawqalah (la hawla wa la quwwata illa billah) dan kalimat-kalimat thoyyibah lainnya.
Rasulullah SAW pernah mengilustrasikan perbedaan antara orang yang berzikir dengan yang tidak berzikir. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa r.a. Rasullullah SAW pernah menegaskan, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR. Bukhari)
Dari hadis tersebut, jelas bahwa hati yang selalu dihiasi dengan zikir (ingat) kepada Allah akan selalu hidup. Hati yang tak pernah lepas mengingat dan menyebut asma Allah akan menjadikan seseorang bergairah dalam menjalani kehidupan ini. Hati yang hidup akan melahirkan semangat untuk terus berkarya, melakukan hal terbaik yang dapat memberi manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hati yang hidup akan melahirkan kreativitas. Hati yang hidup akan selalu melihat ‘jalan keluar’ atas setiap persoalan yang datang menghadang. Tidak ada kata ‘sulit’, tidak ada istilah ‘buntu’ bagi orang-orang yang senantiasa menyandarkan hatinya kepada Allah.
Sementara hati yang tak pernah diisi dengan kalimat-kalimat thayyibah, hati yang kering dari siraman zikir kepada Allah akan mati. Hati yang mati akan menjadikan seseorang hidup dalam kegelisahan, kegamangan dan ketidakmenentuan. Hati yang mati membuat seseorang tidak akan dapat berpikir jernih. Kehidupan bagi orang yang hatinya ‘mati’, ibarat gelap malam di hutan belantara yang menakutkan. Hati yang mati menjadikan seseorang selalu menganggap ‘sulit’ dan ‘buntu’ ketika dihadang beragam persoalan hidup. Singkatnya, seseorang yang jauh dari zikir, tidak pernah mengingat dan menyebut nama Allah akan merasakan kegelisahan batin, keresahan jiwa dan kegersangan ruhani.
Dengan selalu mengingat dan menyebut nama Allah, merasakan kehadiran-Nya di setiap gerak, langkah kaki, serta hembusan nafas kita, hati kita menjadi tenang.
Wallohu a’lam.
Penulis : Ust. Muammar, Lc., M.H.
Tidak ada artikel terkait