Hikmah
Nikmat yang Tak Terlihat
Jumat 3 September 2021      Hikmah
Nikmat yang Tak Terlihat

Sering kali kita bersyukur kepada Allah SWT. disaat mendapatkan rezeki yang banyak, naik jabatan, bisa membeli rumah atau kendaraan, dan kebahagiaan fisik lainnya. Itu tidak salah, justru harus demikian karena bersyukur merupakan perintah Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Namun, kita sering juga lupa bagaimana harus bersyukur atas berbagai nikmat yang sebetulnya secara fisik tidak terlihat. Bahkan, kita tidak menganggap hal tersebut sebagai nikmat dari Allah SWT.

Apa saja itu? Misalnya, kita masih diberi hidayah oleh Allah sehingga istiqamah dalam beribadah. Atau saat kita mampu secara perlahan mengurangi dan meninggalkan kemaksiatan yang merugikan.

Istiqamah dalam ibadah dan mampu terhindari dari maksiat merupakan nikmat dari Allah yang sangat luar biasa besarnya. Andai saja kita sadar betul mengenai dua hal itu, kita akan menangis malu kepada Allah karena sudah melalaikan nikmat-Nya yang sangat berarti tersebut.

Mengapa hal tersebut perlu disyukuri? Karena tidak semua orang bisa mendapatkan kenikmatan istiqamah dalam ibadah. Contohnya, apakah setiap ada panggilan azan semua Muslim shalat berjamaah di masjid? Tentu tidak semua, meskipun punya waktu untuk itu.

Lalu, apakah semua orang bisa tuma’ninah dan khusyuk dalam shalat? Tidak semuanya, bergantung pada kadar keimanan dan ilmu masing-masing. Ada misalnya sebagian orang yang wudhu dan shalatnya dilakukan asal-asalan. Pakaian yang dikenakannya pun sama, kurang bersih dan rapi.

Ibadahnya hanya ritual takbir dan salam. Ibadah shalatnya tidak dinikmati sebagai sarana mendekati dan mencintai Allah SWT. Mengalir tanpa ada ruh dan nilai yang berarti.

Karena itu, mensyukuri nikmat kita bisa ibadah dengan tenang adalah suatu keharusan bagi setiap Muslim. Kalau saja Allah mencabut nikmat ibadah ini, apa jadinya kita di hadapan-Nya? Rugilah kita.

Kedua, bisa ibadah dengan istiqamah akan membentuk pribadi yang mencintai Allah sehingga perlahan tapi pasti bisa menghindari maksiat. Maksiat adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Terlebih, kelak di akhirat akan lama sekali bersidang di hadapan Allah untukempertanggungjawabakan perbuatan tersebut.

Terhindarnya kita dari maksiat adalah anugerah dan pertolongan Allah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata semata. Apa pasal? Ada sebagian orang yang bangga dengan maksiatnya. Bahkan diumbar-umbar di media sosial dan ditonton jutaan manusia.

Media dan cara untuk bermaksiat sangat banyak. Namun, dari sekian banyak pintu maksiat itu, kita tidak pernah sekali pun dekat kepadanya. Ini anugerah Allah yang sangat luar biasa. Masa kita tidak mau bersyukur kepada Allah karena hal tersebut? Rugi betul kalau kita seperti itu.

Mengapa kita harus bersyukur karena bisa terhindar dari maksiat? Menghindari maksiat itu sangat berat dan perlu kesabaran luar biasa agar bisa. Oleh karena itu, kita harus bergantung kepada Allah untuk urusan ini agar dimudahkan dengan baik.

Salah dan khilaf adalah ciri manusia ciptaan Allah. Hanya Allah yang Mahasempurna. Oleh sebab itu, ampunan dan kasih sayang Allah melebihi salah dan khilaf yang diperbuat manusia.

Kecenderungan untuk selalu berjalan di atas rel yang telah Allah tentukan harus secara terus-menerus dipelihara, dikokohkan, dan diimplementasikan dalam segala jenis aktivitas walau tanpa disadari kesalahan-kesalahan kecil sering terjadi.

Sesaat saja manusia tidak ingat akan Allah, itu sudah kekhilafan, apalagi sampai melakukan perbuatan yang bertentangan dengan fitrah dan hati nuraninya.

''Yaitu, orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas Ampunan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang keadaanmu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.'' (QS An-Najm [53]: 32).

Wallohu a’lam.

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait