
Bung Karno pernah memberikan pernyataan dan pesan yang sangat fenomenal dengan kalimat “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Pertanyaannya, bagaimana mungkin hanya dengan 10 pemuda, sebuah negara bisa mengguncang dunia? Akan tetapi pernyataan ini sebenarnya bukan sekedar permainan kata tanpa makna namun dibaliknya memiliki dasar fakta yang kuat tentang eksistensi pemuda yang pada masa kolonial mereka bersatu dan bekerja sama membangun semangat egalitarian di tanah nusantara.
Para pemuda memiliki peranan yang strategis dalam perjalanan dan dinamika sejarah bangsa dan negara Indonesia. Di pundak para pemuda senantiasa berkobar api semangat revolusi. Sebagaimana ditunjukkan melalui perannya yang begitu penting dalam keterlibatannya menghantarkan kemerdekaan bagi bangsa negara. Tidak sampai disitu, pemuda juga selalu konsisten memperjuangkan suara keadilan bagi rakyat yang tertindas.
Daya imajinasi, inovasi dan keberanian yang tinggi senantiasa melekat dalam napas juang generasi muda untuk melakukan perubahan. Sebagaimana Hatta (1997) melukiskan bahwa pada masa pra kemerdekaan, rakyat kita berada di bawah penindasan imperialisme dan kapitalisme kolonial, dalam bentuk ketidakadilan dan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Maka pada saat itulah pemuda Indonesia yang belajar pada Sekolah Dokter di Jakarta yang maju ke muka dan memberi dorongan secara kritis kepada reveil nasional. Hatta melihat bahwa Inilah babak awal perjuangan dengan menguatkan akar persatuan melalui jiwa semangat berkobar dari para pemuda bangsa.
Tanah Air, Bangsa dan Bahasa sebagai Narasi Utama
Bila meninjau kembali, peran pemuda dalam sejarah perjuangan diawali melalui perkumpulan biasa. Namun akhirnya para pemuda berinisiatif membentuk suatu pergerakan atau organisasi yang diberi nama Budi Utomo tepatnya pada tahun 1908. Pergerakan ini sebagai titik awal dari perjuangan, dan merupakansebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA (sekolah untuk pendidikan dokter pribumi) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 mei 1908. Digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, organisasi ini bersifat sosial, ekonomi dan tidak mengandung unsur politik. Momentum berdirinya budi utomo pada tanggal 20 Mei hingga saat ini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.
Lahirnya organisasi Budi Utomo, kemudian memberikan stimulus atas munculnya organisasi-organisasi yang lainnya sebagai alat perjuangan dalam melawan penjajahan. Sebelumnya, pergerakan perjuangan yang dilakukan pemuda lebih didominasi di wilayah Jawa saja, namun semangat perjuangan kemudian menyebar ke wilayah lainnya dan mengantarkan para pemuda untuk menjalin komunikasi dalam rangka membangun visi yang satu. Meskipun iklim keberagaman sangat mewarnai dalam perkumpulan, namun dominasi semangat persatuan yang kokoh dalam sanubari para pemuda berhasil mengesampingkan perbedaan tersebut. Sehingga pada tahun 1928 diwujudkan dalam kongres pemuda.
Dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda (1974) yang diterbitkan oleh Museum Sumpah Pemuda, disebutkan bahwa setelah Tri Koro Dharmo atau Jong Java, mulai muncul perkumpulan pemuda kedaerahan lainnya. Selain Perhimpunan Indonesia, ada juga Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islaminten Bon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan masih banyak lainnya. Mereka merasa membutuhkan dukungan untuk bisa bersatu demi kemerdekaan. Muncul inisiatif untuk bisa menggabungkan dari para perhimpunan pemuda ke dalam sebuah musyawarah besar. Kongres Pemuda I akhirnya dilakukan pada 30 April sampai 2 Mei 1926. Ceramah-ceramah yang diberikan dalam kongres itu belum bisa menyatukan persatuan Indonesia. Masih adanya ego kedaerahan yang kuat dari tiap kelompok. Kemudian, mereka sadar bahwa ego kedaerahan itu akan mempersulit Indonesia untuk bersatu dan berjuang melawan penjajahan.
Momentum substansi dari kongres merupakan kristalisasi semangat mendirikan sebuah negara lahir dari kongres kedua yang berlangsung dua hari 27-28 Oktober di rumah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong Jalan Kramat Raya Nomor 106 Jakarta Pusat (Sekarag Museum Sumpah Pemuda). Mereka mulai menyatakan sebuah kesepakatan bersama akan pentingnya persatuan pemuda. Deklarasi pun dilakukan, dan dikenal dengan nama "Sumpah Pemuda". Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya.
Adapun hasil dari Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 itu adalah: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Rumusan sumpah sudah tertulis dan dibacakan dalam acara itu. Sebelum pembacaan teks sumpah pemuda diperdengarkan lagu Indonesia Raya (tanpa lirik) gubahan W.R Soepratman dengan gesekan biolanya.
Menurut Hatta (1997) Kongres ini berupaya untuk menyatukan semangat persatuan yang selama ini masih bersifat kedaerahan. Kemudian agar perjuangan semakin mudah maka para pemuda dari berbagai daerah bergabung menjadi satu Pemuda Indonesia, dengan mengambil suatu keputusan bersejarah yang menentukan bentuk Indonesia untuk masa mendatang. Dalam kongres tersebut diambil pula keputusan, bahwa lagu Indonesia Raya yang dikarang oleh W.R Soepratman menjadi lagu kebangsaan.
Kondisi sejarah pemuda ini menggambarkan bahwa bagaimana kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Tentu saja, pemuda yang dimaksud ialah mereka yang berpikiran positif, dan berprestasi. Hal ini dituliskan pula oleh Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul mata air keteladanan, yang menggambarkan bahwa, bila di lihat dari kenyataan historis kaum muda Indonesia, kesadaraan akan kebangsaan yang sudah ada bukanlah hanya sebatas dari sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan kesadaran itu sengaja dipupuk melalui semangat kebangsaan yang sama. Bahkan semangat heroisme pergerakan pemuda dari beragam latar etnis dan agama yang mendorong percepatan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah persatuan kebangsaan Indonesia benar-benar banyak dipengaruhi oleh watak revolusioner dari para pemuda. Masa penjajahan yang serba sulit tidak lantas menyurutkan langkah pemuda untuk terus mengejar cita-cita kebebasan dari segala penindasan. Jika melihat akar sejarah pemuda, mungkin saja presiden terpilih Ir. Jokowi begitu terpana melihat sejarah pemuda Indonesia. Maka kemudian, dalam struktur tubuh kabinet yang bernama Indonesia Maju, ada pemandangan yang menarik dimana kepemimpinan yang kedua ini, Presiden memasukan beberapa menteri dari kalangan anak muda. Kemungkinan ada harapan yang lebih di tangan dingin anak muda agar dapat menghasilkan terobosan yang inovatif demi kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, melalui momentum sumpah pemuda, kita dapat memaknai bahwa, ada warisan semangat persatuan dan kesatuan yang harus senantiasa dirawat di bumi ibu pertiwi.
Elly Hasan Sadeli
Dosen PPKn UMP
Kandidat Doktor UNY
Tidak ada artikel terkait