
Menurut kamus bahasa Indonesia lupa artinya adalah lepas dari ingatan, tidak teringat, tidak sadar, tidak tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, lalai, tidak acuh. Tentunya orang lupa dengan melupakan sesuatu, masing-masing memiliki definisi yang berbeda. Dalam syariat Islam ada toleransi bagi orang lupa (red tidak sengaja) untuk dimaafkan, ada punishment bagi orang yang melupakan sesuatu (red menyengaja). Meskipun kedua-duanya memiliki akibat negative, sebab lupa yang seharusnya ia meninggalkan sesuatu atau melakukan sesuatu.
Allah swt menyebutkan orang yang lupa kepada Allah, maka Allah pun akan menjadikan ia lupa akan dirinya sendiri. Apalagi jika ia sudah mengetahui kebenaran, namun melalaikan keberadaan Allah atau melanggar aturan-aturan-Nya. Akhirnya mereka lupa dengan hakikat tujuan hidupnya sendiri dan tidak mengetahui kebahagiaan yang hakiki. Allah SWT memberikan julukan negative bagi orang yang melupakan Allah dengan gelar Fasik, yaitu rang-orang yang keluar dari ketaatan kepada-Nya, akan binasa pada hari kiamat, dan merugi dihari pembalasan kelak. Janganlah kalian lupa berdzikir (mengingat) kepada Allah sehingga Allah pun akan menjadikan kalian lupa berbuat untuk kepentingan kalian sendiri yang bermanfaat bagi kalian di akherat, karena balasan sesuai dengan amal perbuatan. Allah Swt berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”(QS. Al Hasyr/59: 19)
Orang yang lupa kepada Allah, kemudian menentang perintah-Nya dan menentang apa yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya, maka ia memperoleh kehidupan yang sempit di dunia. Tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya, walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya. Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu. Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya. Bahkan di akherat kelak Allah akan memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan orang yang melupakan Allah. Allah berfirman:
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS. Thaha/20: 126)
Allah pun mengingatkan manusia yang lupa kepada Allah dan dirinya dengan berbagai macam cara, baik dengan mendatangkan ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah. Diantaranya menegur dengan bencana, tsnunami, gempa, tanah longsong, banjir, rasa sakit, kelaparan, dan sebagainya. Sesungguhnya musibah menimpa pada manusia agar mereka intstropeksi diri untuk mengingat Allah, kembali beriman atau kembali kepada kebenaran.
(Oleh: Muntohar, M.Pd.I)
Ilustrasi Foto : https://pixabay.com/en/mosque-arcade-corridor-interior-397958/
Tidak ada artikel terkait