Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Kemesraan yang Terlewat: Tentang Anak dan Kedua Orang Tuanya

Akhir-akhir ini banyak tersebar video di jejaring media sosial yang dibuat tidak saja di Indonesia melainkan di negara-negara lain juga. Menggunakan pelbagai alur cerita yang berbeda, semuanya menyampaikan satu inti pesan, tentang hubungan anak dengan orang tua. Salah satu video tersebut mengisahkan bagaimana sang anak selalu disibukkan dengan pekerjaan sehingga kesulitan membagi waktu ataupun merasa tak butuh pulang, hingga tiba-tiba memori masa kecilnya kembali muncul dan mengingatkannya akan kasih sayang sang ibu. Sedangkan video lainnya mengisahkan bagaimana sang ibu hendak dititipkan ke salah satu panti jompo hanya karena telah lanjut usia. Juga kisah-kisah lainnya yang menggambarkan ketidakmesraan, kesenjangan jarak dan komunikasi, kekosongan hati akan rasa rindu, hingga hilangnya kesadaran anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

 

Jika dilihat lebih jeli, fenomena tersebut mengindikasikan adanya permasalahan relasi keluarga di tengah masyarakat. Sekali lagi, tidak hanya di Indonesia. Satu sisi telah kita akui bersama, bahwa keluarga adalah pondasi masyarakat, di mana harapan akan sehat dan harmonisnya keluarga dilatarbelakangi oleh betapa besarnya harapan manusia akan kualitas masyarakatnya. Sedangkan di sisi lain, mirisnya relasi anak dan orang tua tersebut telah menjangkit lapisan masyarakat dengan level kesejahteraan yang berbeda-beda. Baik yang hidup miskin, sederhana, maupun kaya raya. Mereka, atau bahkan kita, menjadi manusia-manusia yang lupa akan peran orang tua dalam kehidupan dan posisi kemuliaan beliau di mata tuhan dari agama apapun, demikian juga di mata Allah bagi umat Islam.

 

Maka tak heran, bagaimana Allah menyebutkan berkali-kali tentang siapa orang tua bagi anak-anaknya, bahkan keridhaan Allah tak dapat diraih tanpa keridhaan orang tua dan kebaktian anak terhadap orang tuanya, agar anak senantiasa sadarkan diri. Salah satu ayat, yaitu dalam QS. Al-Israa’: 23-24 menyebutkan, “dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atay kedua-duanya sampai berlanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkalah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil’.”

 

Sedangkan masyarakat kini, yang terdiri dari milyaran anak, lebih sering lupa tentang keberadaan orang tua. Bahkan mereka tak merasa khawatir ketika kemesraan di antara kedua pihak telah hilang. Toh hari-hari bisa terlewati begitu saja, demikian tanpa membutuhkan kemesraan. Atau mungkin baru akan terasa ketika keduanya telah tiada.

 

Dalam hal ini, sungguh ampuni jika berikut ini menjadi kelancangan. Tapi sungguh, beruntung kita bukan Rasulullah SAW, yang harus menghadapi hari-hari tanpa pelukan dan pangkuan dari kedua orang tua. Beruntunglah kita bukan menjadi ia, seorang anak yang dilahirkan sudah tak berayah dan kehilangan ibunda ketika usia 6 tahun. Dalam hal ini, kita sungguh beruntung. Meskipun kita tak menutup mata, bahwa sebagai umatnya siapa pun ingin meniru sosoknya, Rasulullah SAW. Siapa pun mengaku ingin seperti dirinya, sehingga melakukan pelbagai sunnahnya dalam setiap aktifitas dan kehidupan sehari-hari. Tapi kali ini, bahkan saya sendiri, dalam hal yang satu ini lebih memilih untuk tidak mengikuti nasibnya. Menjadi seorang yatim piatu.

 

Allah Maha Mengetahui akan misteri hikmah dari takdir seseorang. Takdir Rasulullah, takdir setiap pengikutnya, termasuk kita, dan seluruh makhluk yang pernah diciptakan. Para ulama pun mencoba memahami hal tersebut sejauh batas pemahaman manusia. Sebagaimana upaya penalaran yang dilakukan oleh Syeikh Ramadhan Al-Buthy, beliau menyatakan bahwa bukan suatu kebetulan jika Rasulullah SAW lahir sebagai yatim, melainkan ada hikmah di balik hal itu. Jikalah Rasulullah seorang yang berbapak, beribu, dan didampingi kakeknya hingga dewasa, mungkin akan semakin kuat tuduhan yang mengatakan bahwa Muhammad dan keberhasilan dakwahnya merupakan hasil didikan dan asuhan keluarganya yang berasal dari pemuka kaum, bahkan risalahnya dipengaruhi oleh campur tangan maupun gagasan dari ayah dan kakeknya.

 

Maka merupakan rahasia hikmah karena Rasulullah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim, tanpa ada yang memanjakannya, memberikan kelimpahan harta, sehingga ia tumbuh tanpa memiliki kecenderungan pada harta benda, martabat, kedudukan dan ketokohan di mata sosial masyarakat. Terlepas dari hasrat duniawi. Demikian menurut Syeikh Al-Buthy dalam karyanya, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah.

 

Tapi betapa pun para ulama dan cendikia mencoba menalar misteri keyatimpiatuan Rasulullah, dengan hasil hikmah semulia itu pun, tetap saja keberuntungan hidup berbapak dan beribu menjadi anugerah dambaan setiap anak. Tanpa dipungkiri, termasuk diri kita sendiri. Karena ada kemanisan keindahan hidup yang dapat dikecap, suatu saat akan menjadi kenangan, lantas menjadi pelajaran. Tapi, lagi-lagi jika kita melalui masa-masa dengan beliau berdua dalam kemesraan. Meskipun tak urung juga akan menjadi petaka. Bilamana keduanya melakukan kedurhakaan terhadap anak, atau sebaliknya, sang anak yang durhaka terhadap kedua orang tuanya. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Dan bagi semua anak yang bernasib tanpa bapak dan ibu yang mendampingi, semoga mendapat “kemesraan-kemesraan” Allah dalam bentuk lain, sebagai hikmah atas takdirNya. Wallahu a’lam.

 

 

 

Istianah, Lc., M.Hum.

 

Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239