Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Mengenali yang (Seharusnya) Terkasih

Manusia sudah sedemikian banyaknya mempelajari hal di seputar kehidupan, baik yang berkaitan dengan dirinya dan yang di luar dirinya. Manusia akan berusaha mengenali diri sendiri agar tepat dalam mengarahkan hidup. Tak berhenti untuk terus memahami karakter anak agar tepat dalam mengupayakan perkembangannya. Mengenali teman duduk dan rekan kerja agar dapat berpadu dan tak melukai hati. Bahkan mengenali lawan atau musuh, yang tidak sekedar memahami kelemahan untuk mengalahkannya, melainkan agar tetap sanggup bersikap arif memakluminya. Tidak berhenti pada titik itu, manusia memang akan terus penasaran pada objek yang belum dikenalinya. Termasuk pada sosok berikut ini, dan keingintahuan itu akan semakin menjadi ketika mulai hadir dorongan cinta.

 

Dalam konteks ini, kita mulai dari apa yang dirasakan oleh para “sarjana Barat”, yang dalam keheranannya mengakui sosok Nabi Muhammad Saw sebagai sosok pribadi yang kompleks. Karena selain sebagai Nabi, dia juga seorang manusia yang hadir sepenuhnya dalam kehidupan sosial, sebagai seorang suami, ayah, kepala negara, hakim, panglima perang, dan lainnya. Hal ini tidak jarang menjadi kesulitan tersendiri bagi kalangan non-muslim untuk memahami peranan Nabi Muhammad saw sebagai prototipe kehidupan religius dan spiritual. Kesulitan ini disebabkan karena peranan spiritual nabi yang paling murni tersembunyi di balik peranan manusiawi dan tugasnya sebagai pembimbing manusia dan pemimpin masyarakat. Perannya sebagai pembimbing spiritual sekaligus sebagai organisator dari tata masyarakat yang baru, seorang politikus, negarawan dan orator, membuat mereka terheran. Dan sepertinya peran yang kedua akan lebih mudah dimengerti bagi mereka daripada peran yang pertama, yaitu bagaimana ia dapat menjadi pembimbing manusia dalam kehidupan religius dan spiritual, serta mengapa kehidupannya ditiru oleh mereka yang menginginkan kesucian.

Tokoh yang mempunyai peran ganda seperti ini jarang dikenal dalam dunia Kristen barat, terutama dizaman modern ini, dimana kehidupan sosial telah terpisah dari prinsip spiritual, dan kebanyakan orang tidak dapat membayangkan adanya tokoh spiritual yang juga terlibat dalam kegiatan politik dan sosial yang paling intens. Peran ganda seperti ini tampak sebagai sesuatu yang mustahil di mata orang Barat. Sehingga tak mengherankan, kenapa Michael Hart dalam karyanya “100: A Rangking of the Most Infuential Person in History” menyatakan:

My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influental persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was suremely sucsessful on both the religious and secular level.

            Sedangkan seorang Karen Armstrong dalam “A History of God melabeli Nabi Muhammad Saw sebagai “The Perfect man of his Generation and a particularly effective symbol of the divine”, tanpa ragu ia pun menyatakan bahwa “Muhammad” adalah seorang yang sangat cerdas (a man of exceptional genius) dan juga seorang spiritual-genius.

            Siapapun akan berdecak kagum jika menelusuri sirah Nabi Muhammad Saw. Baik sekedar berdecak saja, atau penuh kesadaran akan hal yang sering dilewatkan oleh banyak sarjana, bahwa ada “Pemilik Ilmu” yang ultimate di balik sosok al-Amin ini, dan dari sanalah sumber seluruh ilmu yang mengajarkan laku dan gerak-geriknya.

            Oleh karena itu, mempelajari sirah Nabi Muhammad Saw pada dasarnya bertujuan untuk menggambarkan hakikat Islam yang menjelma dalam kehidupannya. Demikian yang diungkapkan oleh Syeikh Ramadhan al-Buthy, agar seorang Muslim memahami betul apa yang diyakininya, dicintainya, dan diperjuangkan olehnya. Sedangkan entah, sudah sejauh mana umat Islam pada era kini melakukannya. Masing-masing dari kita bisa menjawabnya dimulai dari diri kita sendiri.

Dan sekarang, jika kita menelusuri buku-buku yang kita simpan dengan rapih, novel-novel best seller yang sangat renyah dibaca dan menghibur, sudah setinggi apakah tumpukan koleksinya? Lantas buku biografi tokoh yang masih hidup maupun yang telah pupus usia, seberapa banyak anda memilikinya? Buku sejarah para raja dan catatan yang membahas peradaban gemilang maupun suram dari manusia dan bangsanya, seberapa sering anda menikmatinya? Sedangkan buku yang mengulas tentang Rasulullah Saw dan sirahnya, satukah yang anda miliki? Atau tiada sama sekali? Sungguh, mengapa dalam pertanyaan terakhir ada dugaan sedemikian negatifnya. Karena tetap saja tak elok jika kita menempatkan perhatian tentang sirah Rasulullah Saw setara dengan biografi dan kajian riwayat hidup seorang manapun.

Izinkanlah, sekiranya mengenai hal yang terangkum dalam paragraf yang tak banyak ini, seakan penulis adalah yang paling tahu dan yang paling telaten melakukan. Anggaplah demikian, agar apa yang menjadi isi di dalamnya dapat sampai ke dalam akalmu, hatimu, jiwa anda.

Maka, izinkan pribadi ini mengakhiri dengan satu pertanyaan, yang tidak hanya mengarah kepada anda, melainkan pribadi pun menjadi sasaran utamanya, karena tak lain tugas kita akan senantiasa begitu, memperhatikan dan mengingat, maka mengingatkan. Apakah anda benar-benar mengasihinya sehingga bersungguh-sungguh ingin mengenalinya? Sosok Al-Mushtafa yang (seharusnya) paling terkasih.

 

Oleh    :

Istianah, Lc., M.Hum.

Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI)

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239