Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Engkaulah (Allah) Sumber Kekuatan

Iman, islam dan ihsan, taqwa, tawakal dan ikhlas semuanya merupakan istilah-istilah yang menunjukkan berbagai kualitas pribadi seseorang yang beriman kepada Allah. Kualitas-kualitas tersebut membentuk simpul-simpul keagamaan yang mencirikan pribadi seseorang. Sebab semuanya terletak pada inti kedirian seseorang dan berpangkal pada bathin dalam lubuk hatinya. Keagamaan, dalam makna intinya disebut sebagai kepatuhan (din) yang total kepada Tuhannya, yang menuntut sikap pasrah yang total pula, sehingga tidak ada kepatuhan (din) yang sejati tanpa sikap pasrah (Islam). Inilah sesungguhnya makna firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 19: “Inna ad din ‘ind Allah al Islam (baca: Innaddina ‘inda llaahil Islam” diterjemahkan dengan mengikuti makna asal menjadi“Sesungguhnya kepatuhan bagi (terhadap) Allah ialah sikap pasrah kepada-Nya”. Muh Asad menerjemahkan: “Behold, the only (true) religion in the sight of God is (man’s) self-surrender un to Him”. Sedangkan A Yusuf Ali menerjemahkan: “The Religion before God is Islam (submission to His Will)”.

 

 

 

Perwujudan dari “Agama merupakan kepatuhan dan menuntut adanya kepasrahan yang mendalam”, bahwa segala tindakan dan perbuatan harus sesuai aturan Allah, diambil dan dilakukan hanya karena Allah, bukan karena pengaruh manusia. Tidak seharusnya menggantungkan harapan kepada manusia atau makhluk lain karena posisi manusia dengan manusia yang lain sama, bahkan beberapa jenis makhluk lain posisinya lebih rendah dari manusia. Sedangkan sebuah harapan harus digantungkan kepada yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Sempurna. Maka ketika muslim mempunyai keinginan, doa harus disampaikan langsung kepada-Nya tanpa perantara apapun dan siapapun. Seandainya semua yang kita lakukan sudah digantungkan kepada Allah, maka menjadi ringanlah kita bergerak, tidak dibebani rasa takut (ketika meluruskan siapapun yang salah), tidak dibarengi rasa kecewa (ketika kebaikannya tidak dipuji bahkan tidak dihargai), tidak timbul rasa sakit hati (ketika pendapat dan tindakannya diremehkan). Semua dilakukan hanya karena mengharapkan ridlo Allah.

 



Seorang filosof eksistensialis yahudi, Martin Buber mengatakan: aku baru dapat menjadi aku setelah bertemu dengan engkau, seluruh kemampuan diri tubuh (muncul) di dalam pertemuannya dengan engkau: I require a you to become; becoming I, I say you (aku membutuhkan engkau untuk menjadi aku; sambil menjadi aku, saya mengatakan/menyebut engkau (K Bertens 1990, 164). Dalam ajaran Islam dapat dipahami sesuai versi keyakinan muslim, bahwa Allah adalah sumber kekuatan yang menjadikan manusia bisa menemukan jati diri dan semua kemampuannya, menjadikannya bisa melakukan apapun untuk meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk berputus asa, karena seorang muslim sudah mempunyai pelindung dan sumber kekuatan yakni pertolongan dan rahmat Allah serta bukti kecintaan Allah yang tercurah melalui ayat-ayat Nya. Dalam QS Yusuf 87 “…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”

 

 

QS Al Baqarah 256: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (setan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS Ar Ruum 43: “Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya); pada hari itu mereka terpisah-pisah (maksudnya sebagian berada di surga dan sebagian di neraka)”. QS Al Baqarah 208: “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. QS Al Qalam 35: “Maka apakah patut Kami (Allah) menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) berkaitan dengan balasan yang diberikan kepada mereka masing-masing”

 

 

Ida Nurlaeli, S. Ag., M. Ag.

 

 

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239