Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

BAZ/LAZ Versus Rentenir

esungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil)para mu'allaf, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fi sabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. at-Taubah : 60)

 



Satu kali saya diundang Bank Indonesia (BI) Perwakilan Purwokerto pada Forum Group Discussion (FGD) untuk mengupas tuntas keberadaan bank plecit di wilayah kerjanya. Bank plecit adalah istilah lain bagi rentenir. Rentenir adalah orang atau lembaga yang menyalurkan dana pada masyarakat dengan menarik bunga dalam jumlah besar. Disatu tempat, bunga utangnya hingga 400 persen per tahun!

 

 

Dari forum diskusi ini terungkap bahwa sudah banyak nasabah, terutama dari kalangan pedagang di pasar tradisional di Banyumas, yang menjadi korban bank plecit. Disisi lain sudah banyak bank plecit menjadi korban dengan menutup operasionalnya akibat ulah nasabah yang tidak membayar utangnya. Umumnya, nasabah  terjerat lebih dari satu rentenir. Di Sumatera, saya membaca berita, seseorang terjerat utang pada 14 rentenir! Jebakan rentenir ini memunculkan istilah menutup utang dari utang lain.

 

 

Surat At Taubah ayat 60, yang menjadi pembuka awal tulisan ini, merupakan resep jitu memberantas praktik rente. Pemerintah Republik Indonesia mengakomodasinyalewat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Undang-undang ini menunjuk badan amil zakat (BAZ) dan lembaga amil zakat (LAZ) untuk memerankan fungsi  mengumpulkan, mendistribusikan, mendayagunakan, dan membuat laporan atas zakat yang dititipkan muzaki (orang yang membayar zakat) pada mereka. Allah SWT telah menentukan penerima zakat (mustahik) adalah fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekakan budak, terlilit utang, fisabilillah, dan ibnu sabil

 

 

Tujuan pendirian BAZ dan LAZ adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat dan meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan (pasal 3 UU Pengelolaan Zakat). Zakat, dan begitu pula dengan infaq dan sadaqah, yang berhasil dihimpun dari ummat akan lebih besar manfaatnya, termasuk dalam memberantas praktik rentenirbila dikelola lembaga ini.

 

 

Orang yang terjerat rentenir mustahil menjadi kaya. Sebaliknya malah makin terjerumus pada jeratan utang yang tiada ujungnya. Sebaliknya pelaku rente mustahil kaya dengan menjalankan usaha rentenya, melainkan mirip balon yang makin menggelembung ketika ditiup. Namun meletus dengan kerasnya saat ditusuk jarum. DUARRRR…





Begitulah pelaku rente. Mungkin mereka dapat membeli properti, mobil, dan tabungan yang berlimpah di bank. Namun sejatinya, aset yang mereka punya adalah tidak mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

 

 

Zakat sebesar Rp.10.000 yang Anda salurkan langsung pada mustahik atau disalurkan lewat lembaga resmi itu akan beda dampaknya. Penyaluran langsung berdampak pada mustahik hanya bisa makan pada hari dimana Anda memberikannya. Sebaliknya bila melalui BAZ atau LAZ berarti Anda memberikannya makan setiap hari. Ini bisa terjadi karena zakat yang disalurkan sendiri lebih pada pendekatan belas kasihan (charity). Sedangkan BAZ dan LAZ mendistribusikannya pada yang berhak dengan pendekatan pemberdayaan (development). Silahkan coba.




Encep Saepudin, Dosen HES UMP

 

 

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239