Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Hikmah

Akhlaq dan Ilmu

Agama Islam adalah agama dakwah, berhasil atau tidaknya umat Islam dalam mencapai kualitas hidup baik kehidupan dunia maupun akhirat adalah karena sejauh mana dakwah bisa mengajak umat untuk berbuat kebaikan, memperkuat akidah, akhlak, dan kualitas muamalah yang bisa memberi manfaat untuk sesama. Dan ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana diri mereka punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak mamfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani)

 

Namun, dalam kenyataannya pada saat ini masih banyak ummat Islam yang belum mampu memahami Islam itu dengan benar sehingga berdampak pula pada kualitas kehidupan umat itu sendiri. menerapakan akhlaq islam dalam ilmu pengetahuan itu sendiri  tentunya yang diharapkan oleh banyak orang, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang disekitar mereka.

 

Nilai-nilai agama Islam yang bermuatan pembelajaran bahwa bumi yang dihuni manusia saat ini, tidak diciptakan oleh Allah Subhanahuwataala dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, hikmah-hikmah dari setiap tindakan serta khasiat dan sumber motivasi  yang diperlukan manusia untuk mempertinggi dan memperkembang mutu hidup jasmani dan rohaninya, serta semangat dalam berakhlaq dan berilmu.

 

Etika orang yang berakhlaq dan memiliki ilmu, tentunya Seorang yang berilmu hendaknya mensucikan hatinya dari segala bentuk tindakan negatif, meliputi bentuk kedustaan, kedengkian, prasangka buruk, iri hati, aqidah yang sesat dan akhlaq yang buruk. Semua itu dilakukan demi tujuan agar mudah dalam menerima ilmu, menghafalkannya, mengungkap makna-makna tersembunyi dan mudah memahami pelajaran yang sulit dipahami.

Selanjutnya mempercantik niat dalam menuntut ilmu, yaitu mencari ilmu yang bertujuan semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah Subhanahu Wataala, mengamalkan ilmu yang dimiliki, menghidupkan syari'at Islam, menerangi hatinya, menghias nuraninya dan beribadah taqarrub kepada Allah Subhanahu Wataala, tentunya ini berlaku juga untuk Seseorang pelajar ataupun mahasiswa dalam menuntut ilmu jangan sampai menuntut ilmu untuk tujuan-tujuan keduniaan, misalnya; untuk memperoleh jabatan, pangkat, harta, mengungguli teman-temannya, agar orang disekitar mereka menghormatinya, dan lain sebagainya.

 

Seseorang yang berilmu hendaknya bersikap qonah (menerima apa adanya) terhadap apa yang dia punya. Orang yang berilmu seyogyanya mau bersabar atas kondisi ekonomi yang pas-pasan demi memperoleh ilmu yang luas. Orang yang berilmu juga sebaiknya mampu menghimpun segala cita-cita yang terpecah-pecah di dalam hatinya agar mengalir sumber-sumber hikmah dari dalam hatinya. Imam Syafi, RA berkata: Sungguh tidak beruntung orang yang menuntut ilmu dalam posisinya sebagai orang terpandang dan hidup bermewah-

 

Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak. Hilang kendali menjadikan ketahanan bangsa lemah. Hilangnya panutan pengawal budaya dan pupusnya wibawa keilmuan mengamalkan nilai-nilai akhlaq Islam, menjadikan daya saing anak negeri menjadi lemah. Ketika bangsa sedang meniti cobaan demi cobaan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu, pasti ada tangan kekuasaan Allah Subhanahu Wataala, ada hikmah yang terkandung, yang kita harapkan ada sebuah rancangan sesuatu yang lebih baik untuk kita semua.

 

Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Subhanahu Wataala Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setinggi apapun ilmu yang kita miliki tidak akan mampu menandingi kuasa dan kehendak Allah. Tentunya sikap terbaik kita sebagai orang yang memilki Akhlaq dan berilmu dalam menghadapi ujian demi ujian, adalah sabar dan tawakkal pada setiap kejadian dengan ridha dan ikhlas. Wallahu a’lam.

 

M. Alfian N Azmi (Staff PPAIK LPPI UMP)

 

 

Kemesraan yang Terlewat: Tentang Anak dan Kedua Orang Tuanya

Akhir-akhir ini banyak tersebar video di jejaring media sosial yang dibuat tidak saja di Indonesia melainkan di negara-negara lain juga. Menggunakan pelbagai alur cerita yang berbeda, semuanya menyampaikan satu inti pesan, tentang hubungan anak dengan orang tua. Salah satu video tersebut mengisahkan bagaimana sang anak selalu disibukkan dengan pekerjaan sehingga kesulitan membagi waktu ataupun merasa tak butuh pulang, hingga tiba-tiba memori masa kecilnya kembali muncul dan mengingatkannya akan kasih sayang sang ibu. Sedangkan video lainnya mengisahkan bagaimana sang ibu hendak dititipkan ke salah satu panti jompo hanya karena telah lanjut usia. Juga kisah-kisah lainnya yang menggambarkan ketidakmesraan, kesenjangan jarak dan komunikasi, kekosongan hati akan rasa rindu, hingga hilangnya kesadaran anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

 

Read more: Kemesraan yang Terlewat: Tentang Anak dan Kedua Orang Tuanya

Mengenali yang (Seharusnya) Terkasih

Manusia sudah sedemikian banyaknya mempelajari hal di seputar kehidupan, baik yang berkaitan dengan dirinya dan yang di luar dirinya. Manusia akan berusaha mengenali diri sendiri agar tepat dalam mengarahkan hidup. Tak berhenti untuk terus memahami karakter anak agar tepat dalam mengupayakan perkembangannya. Mengenali teman duduk dan rekan kerja agar dapat berpadu dan tak melukai hati. Bahkan mengenali lawan atau musuh, yang tidak sekedar memahami kelemahan untuk mengalahkannya, melainkan agar tetap sanggup bersikap arif memakluminya. Tidak berhenti pada titik itu, manusia memang akan terus penasaran pada objek yang belum dikenalinya. Termasuk pada sosok berikut ini, dan keingintahuan itu akan semakin menjadi ketika mulai hadir dorongan cinta.

Read more: Mengenali yang (Seharusnya) Terkasih

Islam Bukan Agama Ramalan

Setiap  manusia pasti memiliki masa lalu masa sekarang dan yang akan datang. Entah itu masa membahagiakan atau masa sedih. Itulah kehidupan manusia silih berganti menghadapi situasi yang berubah-ubah. Begitu pula dengan pola kehidupan manusia secara global  dari suatu zaman ke zaman lainnya akan dibawa oleh para penguasanya. Sebagaimana Fir’aun dan Namrud membawa manusia pada kedzaliman (kegelapan). Nabi Sulaiman,   Yusuf As, Muhammad SAW membawa manusia ke zaman yang penuh cahaya. Bagaimana dengan zaman sekarang? 

 

Read more: Islam Bukan Agama Ramalan

BAZ/LAZ Versus Rentenir

esungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil)para mu'allaf, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fi sabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. at-Taubah : 60)

 

Read more: BAZ/LAZ Versus Rentenir

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239