Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

LPPI Ajak Pegawai UMP Menyikapi Media Sosial dengan Bijak

Kehadiran media sosial tidak selalu memberikan dampak positif. Tidak sedikit informasi yang tersebar di new media ini bisa menyesatkan atau bahkan menyebarkan kabar tidak benar, hoax. Kondisi tersebut menjadi semakin tidak menguntungkan karena keberadaan media sosial sebagai produk dari kemajuan teknologi komunikasi tidak berjalan seimbang dengan kesiapan masyarakat dalam menggunakannya. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (LPPM UMP) untuk mengangkat topik “Dunia Sosial Media dan Fiqih Informasi” dalam pengajian rutin bulanan bagi pegawai UMP di masjid KH. Ahmad Dahlan, Ahad lalu.

 

 

LPPI mendatangkan narasumber dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. A. Hasan Asy Ari Ulama, M.Ag, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah bidang LAZIZMU sekaligus juga Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang. Hasan memulai tauziahnya dari lahirnya peradaban baru yang telah membuat semuanya serba cepat dan instan. Salah satu produknya adalah mudahnya mendapatkan informasi melalui telepon genggam atau perangkat lain yang tersambung internet.

 

Hasan mengungkapkan, tidak bisa dipungkiri, kehadiran internet di kehidupan manusia telah memberikan perubahan yang signifikan, terutama dalam kurun waktu terakhir ini, media sosial yang merupakan bagian dari internet, telah menjadi media yang paling banyak digunakan manusia dalam hal pertukaran informasi. “Siapa yang tidak kenal media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsap, BBM dan lainnya. Bagai pisau bermata dua, jika media sosial dimanfaatkan dengan baik dan bijak pasti bermanfaat. Namun sebaliknya jika semena-mena akan berdampak buruk bagi pemberi dan penerima informasi,” jelasnya.

 

Hasan juga mengupas tentang jenis informasi yang beredar di masyarakat namun lebih banyak menyebarkan berita bohong, hoax. Menyikapi hal itu, Hasan menghimbau masyarakat, khususnya umat muslim, harus mampu memahami fakta yang sesungguhnya dengan cara memperbandingkan informasi lainnya. Hasan juga tidak dapat mengesampingkan bahwa isu yang diperdebatkan di dunia maya bisa menjadi isu dan gerakan nyata di masyarakat. “Seperti yang diketahui kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tcahaya Purnama, Gubernur DKI Jakarta. Kejadian penistaan tersebut tidak lain dan tidak bukan merupakan hasil dari informasi yang ada di dunia media sosial,” pungkasnya.

 

 

Di akhir tauziah, mengingat Fiqih merupakan salah satu bidang dalam syariat Islam yang membahas persoalan hukum dari berbagai aspek kehidupan muslim, baik pribadi, masyarakat maupun dengan Allah SWT, maka Hasan mengingatkan warga Muhammadiyah dalam mengelola media sosial harus diiringi dengan hukum atau fiqih terkait penyampaian informasi. “Kita sebagai umat muslim harus tahu terkait informasi yang benar dan salah, kemudian kita juga harus mengetahui fiqihnya agar kita tidak salah mencerna," tuturnya. (Bgn/Pra)

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239