Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Tekan AKI dan AKB, FIKES UMP Latih Ketanggapdaruratan Bidan

UNICEF menyampaikan data yang mencengangkan bagi masyarakat Indonesia. Organisasi dunia di bawah PBB yang fokus meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan anak-anak serta ibu-ibu, memastikan bayi-bayi mempunyai awal hidup yang baik, memajukan pendidikan bagi anak-anak perempuan, melindungi anak-anak dan wabah penyakit dan menjaga kesehatan mereka khususnya di negara-negara berkembang ini menyatakan, setiap tiga menit di manapun di Indonesia, satu anak balita meninggal dunia. Selain itu, setiap jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan.

 

 

Data tersebut tentu lah menampar pemerintah negeri ini yang tengah berusaha bangkit untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Lebih spesifik UNICEF memaparkan rasio kematian ibu, yang diperkirakan sekitar 228 per 100.000 kelahiran hidup, tetap tinggi di atas 200 selama dekade terakhir, meskipun telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu. Hal ini bertentangan dengan negara-negara miskin di sekitar Indonesia yang menunjukkan peningkatan lebih besar.

 

Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini terjadi pada masa baru lahir (neonatal), bulan pertama kehidupan. Kemungkinan anak meninggal pada usia yang berbeda adalah 19 per seribu selama masa neonatal, 15 per seribu dari usia 2 hingga 11 bulan dan 10 per seribu dari usia satu sampai lima tahun. Seperti di negara-negara berkembang lainnya yang mencapai status pendapatan menengah, kematian anak di Indonesia karena infeksi dan penyakit anak-anak lainnya telah mengalami penurunan, seiring dengan peningkatan pendidikan ibu, kebersihan rumah tangga dan lingkungan, pendapatan dan akses ke pelayanan kesehatan.

 

Rumah tangga perdesaan masih memiliki angka kematian balita sepertiga lebih tinggi daripada angka kematian balita pada rumah tangga perkotaan, tetapi sebuah studi menunjukkan bahwa angka kematian di perdesaan mengalami penurunan lebih cepat daripada angka kematian di perkotaan, dan bahwa kematian di perkotaan bahkan telah mengalami peningkatan pada masa neonatal. Tren ini tampaknya terkait dengan urbanisasi yang cepat, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang berlebihan, kondisi sanitasi yang buruk pada penduduk miskin perkotaan, yang diperburuk oleh perubahan dalam masyarakat yang telah menyebabkan hilangnya jaring pengaman sosial tradisional. Kualitas pelayanan yang kurang optimal di daerah-daerah miskin perkotaan juga merupakan faktor penyebab

 

Upaya menurunkan AKI dan AKB merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai aspek dan disiplin ilmu termasuk faktor sosial ekonomi dan budaya masyarakat sebagai mata rantai yang berkaitan. Sehingga, selain komitmen pemerintah sebagai pengambil keputusan yang akan menentukan arah dan prioritas pelayanan kesehatan, juga diperlukan partisipasi masing-masing individu dalam upaya pencegahan.

 

Oleh karenanya, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai Perguruan Tinggi yang bernafaskan ke-Islaman dengan mengedepankan kemaslahatan umat, turut berupaya membantu menekan AKB dan AKI. Maka dari itu, melalui Fakultas Ilmu Kesehatannya (FIKES), UMP berusaha melahirkan tenaga-tenaga kesehatan yang handal, profesional, dan berkompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan prima.

 

Belum lama ini, FIKES UMP melalui Program Studi (Prodi) D III Kebidanannya mengadakan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat Obgyn dan Neonatus “Midwifery Emergency Course” (MEC), yang menggandeng Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118 Jakarta, RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, serta sejumlah Sekolah Tinggi Kesehatan yang berada di Purwokerto.

 

Wakil Dekan Bidang Akademik FIKES, Ns. Endiyono, S.Kep, M.kep mengungkapkan, kasus gawat darurat kebidanan di Indonesia meningkat. Hal tersebut, menurut dia merupakan suatu masalah bagi petugas kesehatan yang bekerja dalam bidang pelayanan kesehatan, khususnya bagi pelayanan gawat darurat pra rumah sakit, puskesmas dan unit gawat darurat.Maka dari itu sebagai seorang bidan harus memiliki kemampuan dalam penanggulangan kegawat daruratan maternal dan neonatal” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Endiyono menuturkan tujuan dari acara pelatihan yakni, menjadi bidan yang  trampil dalam penanganan gawat darurat kebidanan dalam menurunkan angka kematian dan kecatatan dalam kasus kebidanan. “Bidan wajib memiliki kemampuan dasar mengenai penanggulangan pasien dengan gawat darurat kebidanan. Selanjutnya, bidan mengetahui persamaan persepsi dalam pelayanan medis gawat darurat oleh semua bidan,” tandasnya.

Sementara itu, Perwakilan Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118 Jakarta, Dr. Arietta Pusponegoro, Sp. OG memyampaikan, bidan harus memahami etik dan aspek legal dalam Kebidanan, Introduction, Airway dan Breathing Management, BHD (Bantuan Hidup Dasar), Trauma Wanita Hamil, Syok Obstetri, Eklampsia, Retensio Uteri, Persalinan Macet, Prolaps Uteri, Perdarahan Pada Kehamilan Trimester III, Perdarahan Post Partum Primer dan Sekunder, Medevac Wanita Hamil dan Neonatus, Asphyksia Neonatorum, Resusitasi neonatorum, serta Sepsis Puerpuralis.

 

“Setelah mengikuti acara pelatihan, diharapkan peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan khususnya bidan tentang gawat darurat kebidanan. Selain itu juga dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan pelayanan yang bermutu tinggi dari tenaga kebidanan yang terlatih, membuat jaringan dalam penanganan kasus gawat darurat dan bencana di Indonesia,” papar Arietta. (Zyn)

 

 

Editor : Guntur Wibowo

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239