Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Dosen HES FAI UMP Kaji Filantropi Islam Berbasis Media Sosial

Ada perkembangan yang cukup tinggi dalam penggunaan media sosial di masyarakat. Berdasarkan laporan International Telecommunitions Union (ITU) tahun 2012 menempatkan Indonesia sebagai negara pengguna media sosial kedua terbesar dunia setelah Filipina (tekno.kompas.com, 25/6/2015).Sedangkan, menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, pengguna internet Indonesia sudah mencapai 63 juta orang, dari para pengguna tersebut terdapat 95% menggunakan internet untuk kebutuhan media sosial, bahkan Indonesia menjadi peringkat ke-4 Facebook dengan 65 juta pengguna aktif, peringkat ke-5 Twitter dengan 19,5 juta pengguna aktif, Google+ dengan 3,4 juta pengguna, Linkedlin 1 juta pengguna, aplikasi Path 700.000, Line 10 juta pengguna dan sebagainya (Komenfo.go.id, 25/6/2015).

 

Pesatnya penggunaan media sosial di masyarakat ini mendorong Makhrus, S. EI, M.SI dosen Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) untuk meneliti lebih jauh tentang efek media sosial dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk berbagi. Tercatat, beberapa penelitiannya selama 3 tahun terakhir ini membahas tentang hal tersebut. Begitu pula dengan publikasinya di jurnal ilmiah. Konsentrasinya pada hal ini bermula dari penyusunan tesis yang dilakukan ketika menempuh Studi Magister Ekonomi Islam di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, setelah sebelumnya telah merampungkan studi S1 nya dari Prodi Ekonomi dan Perbankan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

 

Dalam tesisnya yang berjudul Filantropi Islam dalam Pemberdayaan Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, ia menjelaskan mengenai peran dan aktivisme lembaga filantropi dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang dilokalisir secara kreatif dengan melibatkan berbagai komunitas masyarakat di DIY. Namun, semakin besarnya penggunaan media sosial, khususnya di kalangan anak muda, ia pun mengkaji beberapa komunitas filantropi Islam berbasis media sosial. Makhrus mengupas tentang peran komunitas filantropi Islam dalam dorong kesadaran berderma, bentuk program yang telah dilakukan, serta bangunan kepercayaan dan kredibilitas lembaga dan komunitas melalui media jejaring sosial. Makhrus menitikberatkan penelitian pada Sedekah Rombongan (SR), Laskar Sedekah (LS) dan, Sedekah Kreatif Edukatif (SKE) dengan pelaksanan waktu penelitian selama 6 (enam) bulan. Ketiga komunitas tersebut menjadi sumber primer penelitiannya, disamping juga ada sumber sekunder lainnya. Penelitian Makhrus bersifat diskriptif kualitatif yang bertujuan mendapat gambaran secara detail mengenai suatu fenomina yang biasanya berupa pola-pola mengenai fenomena yang dibahas.

 

Makhrus menjelaskan, dari pengertian istilah filantropi berasal dari bahasa philanthropia atau dalam bahasa Yunani philo dan anthropos yang berarti cinta manusia, ada beberapa aspek filantropi Islam yaitu zakat, infak, shadaqah dan wakaf. Melalui penelitian ini Makhrus ingin mengetahui komunitas filantropi Islam berbasis media sosial dalam mendorong kesadaran berderma masyarakat di Indonesia. Sasaranya adalah untuk mempelajari bentuk program komunitas filantropi Islam berbasis media sosial dalam menghimpun dan menyalurkan dana terkumpul oleh para donatur di Indonesia, untuk mempelajari komunitas filantropi Islam berbasis media sosial dalam membangun kepercayaan dan kredibilitas komunitas dari para donatur di Indonesia.

 

Untuk menganalisnya, Makhrus menggunakan 4 pendekatan. Pertama, pendekatan karitas (charity approach), pendekatan ini lebih bersifat pelayanan sosial sebagaimana dilakukan masyarakat pada abad 19, sekalipun hingga kini masih dianggap efektif.Selain itu, metode ini lebih banyak menyorot gejala-gejala yang terjadi, ketimbang sebab sumber masalah yang terjadi, sehingga mengakibatkan metode ini dampak sosialnya tidak begitu terasa. Kedua, filantropi ilmiah (scientific philanthropy), pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan penyebab kemiskinan dengan cara mengetahui akar penyebab kemiskinan tersebut. Karenanya, pendidikan dan penelitian menjadi wilayah pendekatan ini daripada memberikan pelayanan. Ketiga, neo-filantropi ilmiah (new scientific philanthropy) pendekatan ini lebih memfokuskan pada proses dari pada peran, sehingga pendekatan ini kurang memberikan perhatian terhadap nilai-nilai yang unik dalam konteks demokrasi. Keempat, pendekatan kreatif (creative philanthropy), pendekatan ini dapat mengembangkan berbagai perangkat ketiga pendekatan sebelumnya, sehingga lebih memiliki dampak yang lebih besar baik secara institusional ataupun pada masyarakat. Artinya, proses pelayanan yang dilakukan oleh lembaga atau komunitas filantropi dalam konteks pemanfaatkan dana sosialnya diharapkan bisa dimaksimalkan dalam bentuk pemberdayaan, sekalipun masih ada yang dilakukan dengan cara tradisional (charity).

 

Menurutnya, adanya lembaga dan komunitas filantropi Islam yang saat ini sedang berkembang, pada dasarnya sudah mengunakan pendekatan yang ketiga. Penggunaan media sosial sebagai salah wadah mencari dukungan dari semua pihak diharapkan mampu memperbesar aktivisme filantropi Islam itu sendiri. Media jejaring sosial atau biasa disebut Social Networking Site (SNS) adalah suatu layanan berbasis website yang memungkinkan setiap individu untuk melakukan hubungan melalui dunia maya, mulai membuat profil diri, menujukkan koneksi seseorang dan memperhatikan hubungan yang terjadi antar pemilik akun (Siswanto, 2013: 83). Bentuk sosial media tersebut antara lain: Twitter, Facebook, Youtube, Google+, Blogspot, Wordpress, foursquare, Flickr dan lainnya yang memungkinkan seorang pengguna akun bisa berinteraksi dengan pengguna akun yang lain. Selain itu, adapula bentuk media sosial yang berbentuk aplikasi yang terdapat dalam smartphone yang sebelumnya harus menginstal aplikasi tersebut sebelum digunakan misalnya: Instagram, WhatApp, Blackberry Messenger (BBM), Path, Kakao Talk, dan lainnya.

 

Makhrus meyakini, media sosial memungkinkan seseorang maupun kelompok dapat melakukan interaksi dengan banyak orang di dunia tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Baik dilakukan secara terbatas maupun umum, saling melihat daftar pengguna untuk saling berbagi informasi dan menambah atau melihat pertemanan sesama pengguna.Biasanya dalam media sosial terdapat beberapa kontens yang memungkin para pengguna dapat bertukar informasi seperti teks, tautan, video dan gambar, sehingga bentuk informasi dapat dimengerti secara cepat dan mudah dipahami. Maka, penggunaan media sosial yang dilakukan oleh  komunitas filantropi Islam dalam mendorong kesadaran berderma di masyarakat menjadi pola baru dalam gerakan filantropi Islam dalam membaca perkembangan masyarakat. Dan itu sungguh gerakan kreatif” tuturnya.

 

Makhrus menemukan fakta, Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah, dan Sedekah Kreatif Edukatif mampu memberikan warna baru gerakan atau aktivisme filantropi Islam secara lebih terbuka dan tidak terbatas dalam sekat golongan, budaya, dan wilayah. Keberadaan ketiga komunitas tersebut mampu memanfaatkan demam media sosial sebagai ajang untuk saling membantu dan berbuat baikdan tukar informasi secara lebih cepat. Gerakan filantropi Islam yang dilakukan oleh Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah, dan Sedekah Kreatif Edukatif merupakan salah satu cara dalam mengoptimalkan media sosial untuk mendorong kesadaran berderma di Indonesia, sehingga penggunaan media sosial yang selama ini digunakan untuk kepentingan pribadi untuk sekadar berkeluh kesah, menggalau, meracau, bertukar pikiran dan seterusnya, mampu dimaksimalkan menjadi gerakan untuk saling berbagi antar sesama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.

 

Makhrus mengapresiasi perkembangan pengelolaan filantropi Islam yang dilakukan 3 komunitas tersebut. Apalagi, keberadaan aktivisme pengelolaan filantropi Islam terkadang masih dipandang hanya dilakukan oleh ormas, lembaga sosial, dan lembaga filantropi Islam itu sendiri.Namun, seiring berkembangnya perkembangan teknologi dan informasi yang memunculkan komunitas filantropi Islam berbasis media sosial, semacam memberikan wadah baru pengelolaan filantropi Islam yang mampu mengelaborasi antara perkembangan teknologi dan informasi dengan bentuk pelayanan sosial berbasis nilai agama. Adanya pemanfaatan media sosial yang saat ini sedang menjadi deman diseluruh dunia senantiasa, memberikan ruang yang lebih luas terhadap aktivisme komunitas filantropi Islam untuk mendorong berbagai program komunitas untuk dapat diakeses oleh pengguna media sosial (nitizen) dari seluruh dunia, tanpa batas ruang dan waktu. Selain itu, pemanfaat media sosial juga memudahkan para nitizen, donatur, penerima donasi, dan semua stakeholders untuk mengenal, mengetahui, dan berkontribusi dalam berbagai program yang diadakan.

 

Kehadiran Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah,dan Sedekah Kreatif Edukatif sebagai komunitas filantropi Islam berbasis media sosial juga akan turut membantu memaksimalkan pengelolaan potensi filantropi Islam di Indonesia. “Berdasarkan penelitian Baznas, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Islamic Development Bank (IDB) potensi zakat diperkirakan mencapai 217 triliun tiap tahun. Maka, adanya potensi zakat yang besar, tidak menutup kemungkinan mengenai dana filantropi Islam lainnya juga bisa dimaksimalkan pengelolaannya,” jelasnya. Makhrus meyakinkan adanya gerakan komunitas filantropi Islam berbasis media sosial seperti yang dilakukan oleh Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah dan Sedekah Kreatif Edukatif menjadi wadah dan gerakan baru dalam mendorong kesadaran dan perubahan kolektif masyarakat, sekalipun hal tersebut dilakukan melalui media sosial. Komunitas filantropi Islam berbasis media sosial dalam mendorong kesadaran berderma masyarakat di Indonesia, dilakukan secara terencana oleh semua pegiatnya, baik untuk meng-update program dan laporan kegiatan. Bahkan dalam beberapa bentuk program disesuaikan dengan kultur para nitizen yang cenderung bersifat kreatif, fleksibel dan mudah diakeses. “Filantropi berbasis media sosial juga mendorong mahasiswa lebih terlibat aktif,” tandasnya. Keterlibatan para mahasiswa dan pelajar dalam kegiatan tersebut, barangkali dipengaruhi oleh keberadaan kaum muda yang begitu akrab dunia dengan dunia media sosial.Sehingga, keberadaan media sosial dapat dimanfaatkan untuk mendorong kesadaran berderma yang dapat memberikan banyak manfaat terhadap orang lain, yang sedang membutuhkan melalui pengumpulan donasi terprogram masing-masing komunitas filantropi Islam.

 

Makhrus mengamati, keberadaan mereka tidak hanya sekadar menjadi pegiat saja, melainkan juga tidak sedikit yang menjadi donatur sebagaimana tergambar pada Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah, dan Sedekah Kreatif Edukatif. Adanya pegiat muda ini, cukup membantu program yang dilaksanakan komunitas filantropi Islam dalam memperbesar dan mempercepat trending topic di media sosial. Keberhasilan program atau pelaksanaan program menjadi trending topic di media sosial akan sangat menguntung komunitas filantropi Islam karena telah mendapatkan respon dari para pengguna media sosial. Biasanya, saat sebuah topik tertentu menjadi trending topic dipengaruhi oleh tagar (hashtag) yang digunakan setiap kali posting status ataupun tweet di media sosial. Artinya, “Ketika menjadi trending topicakan menyebabkan para nitizen lebih banyak tahu, suka, dan berbagi status, sehingga pada akhirnya menimbulkan respek positif dan kesadaran untuk saling berbagi kebaikan ataupun berdonasi,” katanya. Masih menurutnya, menjadikan trending topic tiap aktivisme komunitas filantropi Islam berbasis media sosial harus diimbangi visi, program, dan soliditas pegiat komunitas filantropi Islam tersebut. Oleh sebab itu, setiap komunitas filantropi Islam memiliki sebutan tersendiri untuk menyebut para pegiatnya, misalnnya Sedekah Rombongan menyebut pegiatnya sebagai kurir dan Laskar Sedekah menyebut pegiatnya sebagai pasukan.

 

Keberadaan media sosial mempercepat arus informasi dan mendorong keterlibatan banyak pihak, sebab informasi dan interaksi tersebut juga dipengaruhi oleh banyak dan sedikitnya yang diikuti (following) maupun mengikuti (followers). Maka, adanya pola like, comment, and share sebagaimana dipraktikkan oleh Sedekah Kreatif Edukatif dalam menjaring para nitizen dalam beberapa bentuk program dan realiasasi programnya akan memperbesar radius nitizen untuk terlibat aktif dalam programnya, sekalipun hal tersebut hanya sekadar like, comment, and share postingan yang dilakukan oleh Sedekah Kreatif Edukatif. Hal tersebut juga dlakukan oleh Sedekah Rombongan dan Laskar Sedekah dalam mengkampanyekan program kegiatannya diberbagai media sosial.Sehingga, pada akhirnya dapat mendorong para nitizen terlibat aktif atau berdonasi kepada komunitas filantropi Islam berbasis media sosial.

 

Adanya keterlibatan aktif atau berdonasinya para nitizen terhadap program yang hendak dan dilakukan oleh komunitas filantropi Islam dapat dipandang sebagai keberhasilan komunitas dalam mendorong kesadaran berderma masyarakat, tidak saja untuk masyarakat Indonesia, melainkan juga para nitizen di seluruh dunia, terangnya. Hal tersebut menurut Makhrus disebabkan oleh  keberadaan media sosial yang tidak mengenal batas waktu dan tempat sepanjang terjankau oleh jaringan internet. Kondisi ini yang juga mendorong gerakan filantropi Islam berbasis media sosial ini pun kian tumbuh pesat, bersamaan dengan semakin meningkatnya pengguna media sosial. Kehadiran Sedekah Rombongan sebagai gerakan filantropi Islam berbasis media sosial tentu saja memberikan efek domino terhadap hadirnya komunitas yang sama dalam menggalang dana filantropi dari masyarakat. Gerakan filantropi Islam berbasis media sosial memberikan layanan kemudahan dalam berdonasi, penyaluran donasi,  dan pertanggung jawaban secara cepat melalui berbagai postingan di media sosial komunitas filantropi Islam tersebut. Namun Makhrus mengingatkan, agar ditahap selanjutnya para donatur harus mengontrol dan memahami gerakan komunitas filantropi Islam, sehingga donasi yang terkumpul tidak saja disalurkan bentuk charity, melainkan juga dengan bentuk pemberdayaan masyarakat yang lebih bersifat jangka panjang.

 

Makhrus memprediksikan, perkembangan komunitas filantropi Islam berbasis media sosial akan semakin berkembang, bersamaan dengan semakin banyaknya pengguna media sosial di Indonesia, terlebih hal tersebut juga diimbangin dengan mulai adanya kesadaran berderma masyarakat melalui lembaga. Perkembangan itu mendorong kreatifitas program, transparansi, kredibilitas, dan akuntabilitas komunitas maupun lembaga filantropi Islam. Komunitas filantropi Islam secara kelembagaan kedepan harus mampu didorong menjadi menjadi komunitas formal,” katanya. Makhrus mencontohkan,komunitas tersebut bisa didorong menjadi yayasan atau lembaga yang bergerak dalam pengelolaan dana filantropi Islam, sehingga secara aspek legalitas kelembagaan lebih terjamin, operasional perusahaan berjalan secara teratur, dan akuntabalitas komunitas mampu dapat diaudit secara berkala oleh akuntan publik. Sebab itu, adanya regulasi dari pemerintah menjadi sangat penting untuk menjadi penengah dalam berbagai aktivis dan gerakan filantropi Islam di Indonesia,” ungkapnya.

 

Singkatnya, dari penelitian yang telah dilakukan, Makhrus memiliki beberapa catatan, pertama, untuk pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah agar memberikan perlindungan regulatif terhadap komunitas berbasis media sosial, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dan jurang kompetisi pengelolaan filantropi Islam melalui komunitas berbasis media sosial dengan lembaga atau badan pengelola filantropi Islam. Kedua, untuk objek penelitian ini yakni Sedekah Rombongan, Laskar Sedekah, dan Sedekah Kreatif Edukatif supaya semakin lebih kreatif dalam mendorong kesadaran berdermas masyarakat di Indonesia, hal ini dimasudkan untuk memaksimalkan jumlah donatur dan donasi yang terkumpul. Selain itu, upaya mendorong komunitas kedalam bentuk legal formal, misalnya menjadi lembaga atau yayasan harus disegerakan agar memudahkan komunitas dalam mengantisipasi konflik kepentingan dan berbagai hal negatif di masa depan.  Ketiga, untuk peneliti selanjutnya agar memperbanyak sumber data dan terlibat aktif sebagai pegiat dalam salah satu komunitas filantropi Islam berbasis media sosial di Indonesia, sehingga dapat lebih mendalam dalam mengeksplor berbagai solusi terhadap permasalahan yang hendak diteliti.

 

Kini, dalam persiapannya untuk studi lanjut doktoral, Makhrus yang lahir di Pamekasan 30 Maret 1986 ini makin memantapkan spesialisasi bidang akademik yang ditekuninya adalah ekonomi Islam, khususnya filantropi Islam. Totalitasnya ia perlihatkan juga dalam beberapa tulisan di blog pribadinya, www.makhrusahmadi.blogspot.co.id. Konsentrasinya pada filantropi Islam juga membuatnya memperoleh hibah penelitian DIPA Kopertais Jawa Tengah, 2016. Tidak hanya itu, artikel ilmiahnya yang berjudul “Peran Filantropi Islam dalam Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Banyumas” juga ia presentasikan dalam beberapa forum ilmiah. Namun, meski menekuni filantropi Islam, bukan berarti Makhrus hanya diam dalam merespon problematika sosial lainnya. Menulis menjadi solusi Makhrus untuk menyikapinya. Tercatat Makhrus telah menulis 4 buku dan menjadi editor di 8 buku lainnya. Makhrus meyakini apa yang dilakukan tidak terlepas dari perannya sebagai dosen yang harus mampu mengapilkasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Makhrus ingin tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga memberikan kontribusi positif dalam kegiatan pengabdian yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. ”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sebaik-baik gerakan adalah yang dilakukan secara kreatif” pesannya. (Pra)

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239