Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Selamatkan Generasi Muda, Pendidikan Tinggi Wajib Pantau Pergerakan Mahasiswa

Miris, dari 2002 hingga 2016, 25 pelaku bom bunuh diri dilakukan pemuda yang berusia rata-rata 20 tahunan. Lebih parahnya, tercatat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ada sejumlah anak SMP dan SMA tertangkap terkait perakitan bom. Ini sinyal bagi seluruh elemen negara, untuk lebih mewaspadai gerakan-gerakan radikalisme yang berusaha tumbuh dan menyusup generasi muda bangsa.

 

Pendidikan ideologi, politik, sosial budaya, dan agama yang mengedepankan saling menghargai dan menghormati pluralisme, perlu diajarkan kepada pemuda. Pasalnya, teroris alumni Afghanistan, Pakistan, Filipina Selatan, maupun dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso, yang tewas dalam operasi Tinombala dua hari lalu itu, menyasar anak-anak muda menjadi simpatisan dan anggota kelompoknya. Saat ini, informasi yang didapatkan BNPT penyebaran paham radikal dan perekrutan teroris melalui cyberspace. Strategi tersebut dilancarkan teroris, karena diketahui pengguna terbanyak layanan internet di Indonesia, merupakan anak muda.

 

“Pemuda menjadi sasaran empuk, penyebaran paham-paham radikal. Disebabkan, psikologis mereka masih lemah. Jadi saat adanya kelompok yang berusaha memberikan ideologi dan tafsir agama yang salah, anak-anak muda ini bisa goyah. Mereka selanjutnya berpikir adanya ketidakadilan, intoleransi, balas dendam, ataupun untuk mendirikan negara baru. Aksi mereka setelah itu bisa berlatih militer, melakukan pembunuhan, ataupun juga pengeboman. Maka dari itu, perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, harus mengawasi, mengajari, dan mendidik mahasiswanya pola berpikir demokratis, toleran, agamis, dan nasionalis,” ungkap Kasubdit Penangkalan dan Pembinaan BNPT, Isheri SSos, MT, saat mengisi Sosialisasi Bahaya Komunisme, Radikalisme, dan Narkoba di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), beberapa waktu lalu.

 

Upaya penanggulangan terorisme di Indonesia, kata Isheri, yakni melakukan pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, penyiapan kesiapsiagaan nasional. Menurutnya, pihaknya telah mengetahui alur gerakan-gerakan terorisme di Indonesia. Namun, kapan, bagaimana, dan dimana aksi teror terjadi tidak bisa diketahui. Oleh karenanya, dia meminta masyarakat harus terus waspada, “Semua komponen bangsa ini, wajib turut serta dalam usaha mengantisipasi supaya tidak terjadi aksi teror. Paling sederhana, awasi lingkungan di sekeliling, karena paham radikal bisa berusaha dikembangkan dimanapun,” pungkas dia. (Gun)

 

Editor              : Guntur Wibowo 

Fotografer      : Aziz F.R

Arsip Berita

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239