Hikmah
Dunia Lain
Selasa 9 Januari 2018      Hikmah
Dunia Lain

Oleh: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd. (Instruktur AIK LPPI UMP)

“Close both eyes to see with the other eye”

Terilhami dari mantra Rumi, ada sebuah kesimpulan yang dapat ditarik jika melihat adalah komunikasi yang tidak sederhana. Jika kita ingin mengatakan bahwa mata adalah anugerah dan nikmat tiada bandingan dari Tuhan, maka perihal “melihat” menjadi sesuatu yang sangat istimewa dan agung. Ketidak sederhanaan ini lebih karena kita dituntut untuk memberi sesuatu yang berimbang dengan agungnya pemberian Tuhan.

Sesuatu yang tidak sederhana tentu memberi makna “keberhargaan”. Nyatanya melihat adalah sesuatu yang parsial. Tidak cukup hanya melihat dengan dua mata ini saja, tapi selanjutnya kita harus melihat dengan cara lain. Dua-duanya ini tidak bisa kita pilih salah satunya, tidak bisa kita lebihkan atau kurangkan diantara keduanya. Maka inilah yang disebut berimbang dengan “keberhargaan” anugerah Tuhan.

Suatu kali ketika kedua mata ini hanya melihat seorang kakek duduk di tepi jalan dengan pisang goreng yang bahkan satu pun belum berkurang, kemudian kita berlalu begitu saja, melihat belahan dunia menangis dan kita tetap terdiam, melihat seekor kucing memelas kelaparan, kitapun bahkan tak bergerak sedikitpun, jelas ini kita hanya menggunakan satu cara melihat. padahal jika kita ingin melihat sebagaimana yang disebutkan di awal tadi, kita akan menemukan makna keberhargaan yang sesungguhnya.

Dan akhirnya jelaslah, ternyata melihat tidak bisa dikatakan sederhana. Ada jenis melihat yang derajatnya lebih tinggi. inilah yang disebut melihat dengan mata hati. Ketika kita menggunakan dua cara melihat ini, kita akan temukan dunia lain. Dunia yang semakin memanusiakan manusia. Dunia yang memberi tahu kita bahwa di dalam sampah ada banyak sekali berlian, melihat rumah semut penuh dengan pelajaran berharga.

Lalu lalang di linimasa akhir-akhir ini melihat semakin banyaknya manusia yang tidak menggunakan cara melihat yang sesungguhnya, maka banyak sekali kita temukan kekeringan. Pemandangan yang jauh sekali dari rasa damai. Kering bahkan kemarau.

Untuk memahami cara melihat yang benar, terkadang kita harus meminjam matanya para pengemis, meminjam matanya anak-anak yang menangis kehilangan orang tuanya, mungkin dengan meminjam mata mereka, kita akan mengerti cara melihat yang sesungguhnya.

Karena terkadang kita perlu mencurigai mata kita sendiri. Ada faktor-faktor yang menghalangi kita untuk melihat dengan benar. Sayangnya sebagai manusia, seringkali kita beralibi tidak adanya determinan yang pantas kita lihat atau jangan-jangan kita terlalu sombong untuk melihat apa-apa yang di depan kita.

Jika alam raya ini adalah pelajaran nyata. Maka cara melihat adalah komunikasi pertama yang perlu kita perbaiki. Setelah kita memperbaiki cara pandang kita, tentu kita dapat berdialog yang sesungguhnya dengan rahasia-rahasia alam. kita akan menemukan dunia tanpa distabilitas, dunia yang memang pantas disebut tempat tinggal manusia.

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini