Hikmah
Rasa Memiliki Itu Bikin Sakit Hati
Jumat 13 November 2020      Hikmah
Rasa Memiliki Itu Bikin Sakit Hati
Siapa yang tidak sakit hati jika kehilangan orang yang sangat dicintainya. Atau
berpindahnya sang kekasih kepada orang lain karena tidak mampu memelihara
kekasihnya tetap setia? Rasa memilki atau sense of belonging adalah perasaaan yang
akan melahirkan sifat mencintai, menjaga, melindungi, memberi pengorbanan dan
kepedulian kepada sesuatu. Rasa memilki yang timbul hanya dari diri manusia itulah
yang membuat kita tambah sakit, tambah berat, tambah stress, tambah pusing. Ketika
rasa memilki terhadap dunia semakin bertambah maka akan semakin susah untuk
melepaskan diri dari belenggu kepemilikian. Takut kehilangan harta, takut kehilangan
jabatan, pekerjaan, anak sholeh, istri cantik, kendaraan mewah atau rumah mewah.
Kesenangan-kesenangan tersebut disindir oleh Allah swt melalui firman-Nya:
“dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S Ali ‘Imran ;
14).
 
Oleh karena itu Allah mengajarkan kepada kita jika kehilangan sesuatu atau tertimpa
musibah dihadapi dengan sabar dengan mengucapkan Innalillahi wainnailai raji’un.
Kita adalah milik Allah dan apa yang melekat pada diri kita adalah titipan Illahi yang
sewaktu-waktu akan diminta untuk kembali kepada Sang Pemilik segala sesuatu yaitu
Allah swt.
 
Tetapi kembalinya titipan Illahi yang dicintai manusia bukan berarti sama sekali tidak
boleh menetestkan air mata, karena ketika istri Rasulullah meninggalpun, Rasulullah
menangis. Dikisahlakn di saat detik-detik wafatnya Khadijah: “Ummul Mukminin,
Khadijah, pun mengembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta,
Rasulullah SAW. Khadijah pun didekap dengan perasaan pilu dan sedih yang teramat
sangat. Melihat air mata Rasulullah turun, ikut menangis pula semua orang yang ada
di situ.”
 
Kisah Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat menjadi pelajaran bagi kita. Mereka
meninggalkan segala sesuatu yang dimiliki di kampung Mekkah. Rasulullah
memanjatkan doa kepada Allah agar diberi kekuatan ketika meninggalkan Mekah,
agar hati Rasulullah tidak terlalu terikat pada Mekah dan Rasulullah berdoa’a agar
 
diterima dengan baik di tempat baru. Doa itu dipanjatkan kepada Allah swt ketika
beliau hendak meninggalkan Mekkah menuju Madinah.
 
Rasulullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku, yang tadinya
aku bukanlah siapa-siapa. Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi dunia, cobaan
masa, musibah siang dan malam,”
 
“Ya Allah, temanilah aku dalam perjalananku, jagalah keluargaku yang
kutinggalkan. Berkahilah apa yang Engkau anugerahkan kepadaku, tundukkan aku
kepadaMu. Tegakkanlah aku pada akhlak yang baik, buatlah aku mencintaiMu dan
janganlah Engkau serahkan aku kepada manusia,”.
 
“Wahai Tuhanku, orang-orang adalah lemah sedangkan Engkau adalah Tuhanku.
Aku berlindung dengan Wajah-Mu Yang Mulia, yang karenanya langit dan bumi
bersinar, kegelapan tersibak dan urusan orang-orang yang terdahulu menjadi baik,”.
“Janganlah Engkau timpakan murka-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, datangnya
siksaan-Mu, hilangnya afiat-Mu dan seluruh murka-Mu. Bagi-Mu lah segala
kesudahan yang baik pada diriku menurut kesanggupanku, tiada daya kekuatan
kecuali dari-Mu,”.
 
Setelah kurang lebih 10 tahun, ternyata dibalik semua itu, Allah mengembalikan yang
lebih kepada Rasulullah dan para sahabatnya ketika fathul Mekkah. Jadi ketika apa
yang dimiliki seseorang hanya disandarkan pada dirinya sendiri, maka menjadi
sakitlah hatinya. Tetapi jika yang miliki seseorang sandarannya hanya kepada Allah,
maka menjadi indahlah pada akhirnya. Hilang sakit hatinya. Wallahu alam.
Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini