Hikmah
Alhamdulillah Cukup
Jumat 9 Oktober 2020      Hikmah
Alhamdulillah Cukup

Penulis : Usth. Mita Wahyuningrum, S.pd.

 

“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” (QS. Saba: 39).

 

Lapang dan sempitnya rezeki yang diperoleh seseorang adalah ketetapan dari Allah. Bila Allah sudah menghendaki, orang yang bodoh bahkan buta huruf sekalipun bisa menjadi orang yang sukses. Sebaliknya orang yang berpendidikan tinggi, justru hidup sederhana tanpa harta yang berlimpah. Oleh karenanya rezeki yang didapatkan seseorang tidaklah berkaitan dengan latar belakang keluarga, pendidikan, dan kebangsawanan yang dimiliki oleh orang seseorang tersebut. 

 

Layaknya Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) mengambil banyak hal berharga dari kita. Ayah, Ibu, Suami, Istri, Anak, Teman, Pekerjaan, dan pertemuan yang paling kita rindukan. Pembatasan Sosial memberikan dampak luar bias bagi kita yang secara lahiriyah merupakan makhluk social.

 

Adanya pendemi Covid-19 di Negara ini mengakibatkan perubahan di berbagai tatanan kehidupan terutama dibidang ekonomi. Banyak sekali orang yang terkena PHK atau kehilangan pekerjaan akibat adanya pendemi ini. Hal ini mengakibatkan seseorang harus berpikir kreatif dan berani melakukan perubahan dengan pola kerja yang baru. Seseorang harus berfikir bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup disituasi ini. Para pedagang dan pengusaha yang kehilangan sebagian besar omzetnya harus tetap bertahan demi keluarga mereka. Mereka tetap bekerja dan berjualan dengan penuh kewaspadaan melawan rasa ketakutan akan tertular virus ini.

 

Melawan atau bertahan keduanya bukanlah hal yang wajar di masa kini. Dengan Melawan kita kian di jauhkan, namun Bertahan membuat kita lupa rasanya ber-Jabat tangan.

 

Banyaknya orang yang harus melakukan pekerjaanya ditengah mewabahnya virus ini. Mereka rela berhadapan dengan virus yang sedang menjadi momok menakutnya di dunia ini demi mendapatkan sesuap nasi.  Namun tidak sedikit pula orang yang pasrah dan menyerah akan keadaan ini. Dengan adanya pandemi ini mengajarkan kita untuk pandai-pandai bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Bukan malah menjadi alasan kita untuk menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan menyalahkan Allah SWT.

 

Ketika kita sedang disempitkan rezekinya bukan berati Allah SWT tidak mencintai kita. Bisa juga sempitya rezeki yang kita peroleh merupakan kebaikan untuk kita. Banyak pula orang yang dilapangkan rezekinya justru lupa diri dan tekunci hatinya.

 

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran.” (QS. Asy Syura: 27)

 

Maka dari itu kita sebagai manusia harus yakin bahwa rezeki itu tidak akan tertukar. Rezeki itu pasti cukup, tinggal bagaimana kita mencari keberkahan dengan amal sholeh dan ikhtiarnya. Gajian itu seperti menstruasi, datangya satu bulan tetapi habisnya satu minggu. Tetapi Alhamdulillah cukup. Allah SWT tidak mungkin menyematkan suatu amanah kepada hambanya tanpa dilengkapi dengan perangkatnya (rezeki). 

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini