Hikmah
Hujan itu Ujian
Jumat 8 November 2019      Hikmah
Hujan itu Ujian

Oleh : Muntohar, M.Pd.  

Dialah (Allah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.(Al-Baqarah/2: 22)

Sudah cukup lama kita merasa khawatir dan cemas terjadinya kekeringan air dimana-mana, hingga manusia mencari cara untuk mendapatkan air demi memenuhi kebutuhan  sehari-hari. Hati senantiasa berharap bahwa hujan akan segera turun untuk membasahai belahan bumi yang sangat panas selama setengan tahun lebih.

Karena kebutuhan semakin mendesak, maka kegelisahanpun makin memuncak, sehingga masyarakat tertentu mengadakan ritual-ritual tertentu untuk mendatangkan hujan. Dengan alasan mempertahankan tradisi nenek moyang, walaupun di dalamnya ada unsur-unsur kesyirikan. Dengan begitu, warga berharap hujan segera turun, agar dampak kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda bisa segera berlalu. Hal inilah yang kemudian Allah mengingatkan agar kita manusia tidak mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah yaitu segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti meminta hujan kepada Dewa Hujan, pawang hujan atau ritual tertentu sebagai ritual minta hujan.

Hujan adalah ciptaan Allah  dan akan tunduk dalam pengaturan-Nya, tentunya hujan akan turun atas kehendak Allah. Manusia akan diuji kesabarannya dalam menghadapi kehendak-Nya agar terbukti sejauh mana keimanannya. Jika manusia berputus asa, maka bisa berbuat yang melampaui batas dan bahkan lupa kepada sang Pencipta. Allah Maha tahu tempat dan kapan waktu yang tepat akan turunnya hujan. Upaya meminta hujanpun sudah diberitahukan tata caranya, yaitu dengan shalat Istisqa.

Setelah Allah swt menurunkan air hujan yang menjadikan udara dan suasana panas  berganti dengan kesejukan, menjadikan rasa khawatir serta cemas berganti dengan  suka cita. Ini adalah tanda bahwa Allah menebarkan rahmat  serta kasih sayang kepada makhluk-Nya.  Ada diantara manusia  mengeluh ketika hujan, jemuran tidak kering, ketika akan keluar rumah untuk bepergian tiba-tiba hujan, sampai ada yang mencela hujan. Mencela hujan berarti mencela yang menurunkan hujan.Ini memang kelalaian manusia dalam menyikapi af’al Allah (perbuatan Allah), jika Allah berikan  ujian yang tidak disukainya mudah berkeluh kesah, tetapi jika Allah hilangkan musibah maka tiba-tiba ia menjadi penentang Allah dan tidak mensyukuri akan nikmat-Nya.

Marilah kita jadikan hujan ini sebagai pintu kita menambah keyakinan akan Maha Kuasa dan Maha Kasih Sayang  Allah kepada makhluk-Nya. Hujan yang akan mendatangkan keberkahan (red kebaikan), dengan sebab hujan itu pohon-pohon berbuah, hamparan bumi semakin menghijau serta menjadikan kita semakin bersyukur.Hujan kita jadikan permisalan akan kekuasaan Allah yang akan menghidupkan kembali makhluk-Nya kelak pada hari kiamat.

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini