Berita
UMP dan SBMI Serikat Buruh Migran Indonesia Berkolaborasi
Jumat 23 Oktober 2020      Berita
UMP dan SBMI Serikat Buruh Migran Indonesia Berkolaborasi

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengundang salah satu ketua dan pendiri asosiasi nasional buruh migran Maizidah Salas untuk berbagi cerita mengenai perjuangannya dalam mendirikan dan mengembangkan Asosiasi Nasional Buruh Migran.

Acara ini dilaksanakan pada tanggal Jumat (16/10/2020) di ruang sidang lantai 2 Gedung Rektorat.

Dihadiri oleh beberapa pimpinan UMP seperti Rektor Dr Anjar Nugroho, Wakil Rektor Bidang III Akhmad Darmawan SE MSi, dan beberapa dekan.

Akhmad Darmawan menyampaikan maksud dan tujuan acara ini diselenggarakan.

“Dasarnya adalah bahwa setiap Fakultas atau Prodi harus memiliki satu program andalan yg bisa menjadi andalan fakultas dalam pengembangan ilmu pengetahuan,research dan pengabdian masyarakat,“ tutur dia.

Rektor UMP Dr Anjar Nugroho menyampaikan bahwa cerita inspiratif dari Salas harus ada pembahasan lanjutan mengenai kolaborasi yang pada nantinya akan menciptakan keunggulan dan keunikan program di Fakultas UMP.

“Bersama sama berkolaborasi dengan pihak dari Bu Salas. Cerita yang bisa menginspirasi kita semua dan kemudian yang paling penting nanti ada lanjutan, kita bergerak bersama dan dapat menemukan keunggulan keunikan dari Fakultas yang ada di UMP,“ ujarnya.

Dalam awal sesi shearing Salas menceritakan perjalanan karirnya sebagai seorang TKI di Korea Selatan dan Taiwan yang penuh lika liku.

Kemudian pembentukan awal organisasi selepas beliau pulang dari Taiwan yang kemudian melebur bersama dengan Serikat Buruh Migran ( SBM ) yang pada saat itu ada di Jakarta.

Bu Salas menjelaskan beberapa cabang yang telah didirikan di berbagai negara termasuk pembentukan dewan wilayah di indonesia.

“Sekarang kita sudah ada di beberapa negara seperti Jeddah, Malaysia, Thailand, Riyadh, Singapore, Sabah dan Amerika. Dewan pimpinan wilayah provinsi di Lampung, Banten, jabar, jateng, jatim, NTT, NTB dan 62 desa di Indonesia,” tuturnya.

Berbagai macam upaya dilakukan oleh SBM sebagai bentuk pendampingan terhadap pekerja migran Indonesia diantaranya adalah dengan pembentukan advokasi

“Selain perorganisasian kita juga ada advokasi, advokasi terbagi menjadi dua yautu Advokasi penanganan kasus, kasus yang kita dampingi mulai dari kasus pra sampai purna. Advokasi Kebijakan di level internasional kita membantu membuat draft konferensi internasional, di tingkat nasional kita terlibat membuatkan draf UU no 18 tahun 2017 tentang bimbingan pekerja migran di luar negeri, di level provinsi kita membuatkan perda seperti perda di jawa tengah, di level kabupaten kita mendorong DPRD dan pemerintah untuk membuat perda sampai ke level paling bawah di desa yaitu perdes seperti di Sukabumi sudah ada 14 perdes“.

Meningkatkan perekonomian bagi warga pekerja migran dengan pembentukan koperasi hingga terciptanya program unggulan pertama di indonesia.

“Pemberdayaan ekonomi tingkat nasional kita membangun koperasi sampai tingkat desa, dan di desa ini lah kelompok pekerja imigran yang sudah saya sampaikan akhirnya membentuk unit usaha. Seperti program unggulan SBM ini yang berkaitan dengan ekonomi yaitu kampung buruh migran di Wonosobo dan menjadi pertama di indonesia”

“Di kampung ini kita mendirikan PAUD bagi anak anak buruh migran secara gratis, kelompok ternak kambing, kemudian kelompok untuk membuat bahan triplek, kelompok toko sembako. Di Wonosobo sendiri sudah ada 22 desa yang sudah dibentuk “ Imbuhnya

Ikut berkontribusi dalam bidang research dan kerja sama internasional, SBM angkat tema yang inspiratif dan menggandeng organisasi internasional

“Kita juga mempunyai team research yang sudah dilakukan bersama universitas di Australia tentang isu ABK kemudian research terakhir tentang persoalan di desa tadi itu, persoalan pekerja migran di desa dan telah bekerja sama dengan ILO”

Selain pendampingan bagi pekerja migran Bu Salas juga menyarankan temannya untuk membuka yayasan yang khusus menampung orang orang depresi. Berawal dari satu kasus team research saat menangani anggota keluarga yang depresi.

Hingga akhirnya Yayasan ini telah dibuka dan sampai sekarang telah merawat 154 pasien, untuk sementara dibatasi karena pandemi Covid-19

“Semisalnya enggak dibatasi mungkin sudah 500an pasien tetapi oleh dinas kesehatan untuk tidak ditangani dulu karena khawatir akan ada pasien yang positif Covid-19 dan akhirnya menularkan ke pasien lainnya” Ucap Bu Salas saat sesi sharing terakhir. (*)

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini