Berita
Teguh Marhendi: FDTI & Canangkan Program Profesi Insinyur
Jumat 20 Maret 2020      Berita
Teguh Marhendi: FDTI & Canangkan Program Profesi Insinyur

Selasa.17-Maret-2020. Di Indonesia saat ini telah memiliki FDTI (Forum Dekan Teknik Indonesia) yang mana forum ini dibentuk tahun 2018 di Universitas Udayana Bali yang beranggotakan semua Dekan dalam rumpun Teknik maupun Teknik & Sains. FDTI berfungsi membahas konsep pendidikan teknik dan proses keinsinyuran yang ada hampir semua fakultas teknik di Indonesia.

Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FTS-UMP), Ir. Teguh Marhendi, S.T., M.T., ASEAN.Eng., IPM menjelaskan tentang pengalamannya pada pertemuan FDTI yang digelar pada 13-14 Maret 2020 di makasar. Salah satunya adalah Implementasi Kampus Merdeka & Merdeka Belajar yang disampaikan oleh Dirjen Dikti tentang Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Sek Dirjen menyatakan bahwa semua kebijakan harus diimplementasikan, karena banyak hal yang secara utuh dilaksanakan di masing-masing fakultas teknik dan bagaimana teknisnya.

Selain itu, teknis yang harus dilakukan juga perlu dipikirkan secara matang guna mewujudkan Kampus Merdeka ataupun Merdeka belajar tersebut yang mana para Dekan diminta untuk membuat teknis pelaksanaan pada masing-masing kampus sepeti magang, pengambilan mata kuliah diluar prodi maupun diluar prodinya yang bersangkutan.

“Semisal ketika prodi di teknik harus mengambil mata kuliah di luar prodi teknik. Apa yang harus dilakukan, Teknisnya mau seperti apa, dan solusi yang akan digunakan guna mengakomodir agenda tersebut yang akan dibebankan pada para Dekan dan pengelola di fakultas teknik di Perguruan Tinggi (PT) masing-masing”, ungkap teguh.

Dalam pertemuan FDTI tersebut juga dibahas mengenai bagaimana menjalin dengan mitra industri atau lembaga terkait sekaligus penanda-tanganan kerjasama yang nantinya akan menjadi lokasi magang mahasiswa. Setidaknya belasan stackeholder telah ikut berpartisipasi dalam kegaitan tersebut.

Dalam sesi wawancara tersebut, Teguh juga menjelaskan tentang pencanangan Program Profesi Insinyur (PPI) di FTS-UMP. Dalam UU No.11 tahun 2014 terkait dengan keinsinyuran yang menyatakan bahwa seluruh gelar insinyur diakomodir oleh PPI, tetapi pada tahun 2016 gelar tersebut menjadi tanggung jawab PT, bukan lagi oleh PPI karena sifatnya adalah akademis. Menindaklanjuti kebijakan tersebut Pemerintah  melalui Dirjen Dikti menghimbau kepada PT untuk mendirikan PPI untuk memberikan Sertifikat Insinyur bagi para mahasiswa yang mengikuti program tersebut. Dimana dalam PPI sendiri mempunyai 2 model yakni Reguler dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

“Dalam UU tersebut juga dijelaskan bahwa semua orang yang bekerja berkaitan dengan keinsinyuran maka dia harus memiliki gelar insinyur, jika tidak maka dia akan dikenai pidana, sebbaliknya ada orang yang bekerja sebagai insinyur, tetapi tidak memiliki profesionalitas sebagai insinyur maka dikenakan pidana penjara pula”, Ujarnya.

Saat ini ada sekitar 30 PT dengan PPI dari 40 PT yang diminta oleh Pemerintah, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melihat peluang tersebut, khususnya FTS-UMP mencoba mempersiapkan bagaimana kita bisa membantu Pemerintah memberikan gelar maupun sertifikat insinyur bagai para mahasiswa yang mengikuti PPI.

“Guna memenuhi pembuatan program tersebut, FTS-UMP sedang mempersiapkan SDM yang tak lain adalah pengelola dan pengajar yang wajib memiliki gelar IPM (Insinyur Profesional Madya), tetapi sebelum memiliki IPM sebelumnya pengajar harus memiliki gelar Insinyur dengan cara mengikuti pendidikan di salaha satu PPI yang ada di Indonesia, selanjutnya nanti akan kami dorong bagi dosen untuk memiliki gelar IPM”, ungkap Teguh.

Teguh juga menambahkan, “Setelah kedua langkah diatas dicapai, barulah kita akan melakukan proses pendirian PPI di FTS-UMP pada awal 2022, karena ingin memang butuh waktu”.

“Karena itulah UMP sedang menyiapkan diri bagaimana mendirikan PPI guna memenhi kebutuhan masyrakat dan mendukung program pemerintah mencetak insinyur yang bersertifikat agar tak hanya bersaing di kanca nasional dan Asia tetapi juga di Internasional karena masih banyak di lapangan orang yang bekerja sebagai insinyur tetapi belum memiliki sertifikat insinyur ataupun orang yang sudah bergelar insinyur tetapi belum memiliki profesionalitas sebagai seorang insinyur”, pungkasnya.(aff)

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait