Berita
Dosen UMP Raih Gelar Doktor Pertama Program S3 Fakultas Pertanian Unsoed
Selasa 11 Februari 2020      Berita
Dosen UMP Raih Gelar Doktor Pertama Program S3 Fakultas Pertanian Unsoed

Pemberdayaan masyarakat senantiasa menjadi salah satu program prioritas dalam pembangunan nasional berkelanjutan. Setiap pemberdayaan masyarakat memiliki konsep perkembangan ekonomi bernilai sosial dan berparadigma baru yakni pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada partisipasi sumberdaya manusia (SDM).

Pemberdayaan relevan bagi peningkatan pendapatan dan keuntungan yang mereduksi kemiskinan.

Hal itu diungkapkan oleh  Ir. Dumasari, M.Si dalam  sidang promosi doktor pertama dengan disertasinya yang berjudul Pola Pemberdayaan Pengrajin Cococraft Berbasis Manajemen Adaptif Melalui Inisiasi Usaha Mikro media Semai Cocodust di Kecamatan Purbalingga Wetan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dihadapan tim penguji di ruang Pasca Fakultas Pertanian Unsoed, Purwokerto, Senin (10/2/2020) pagi.

Dia menyebutkan, fungsi pemberdayaan sebagai penggerak kemandirian melalui pengembangan kapasitas potensi diri agar berperilaku produktif, kreatif dan innovatif. 

"Dengan demikian, proses pemberdayaan urgen dilakukan secara terencana, sistematis, bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan kondisi, kebutuhan serta permasalahan masyarakat," kata Ir. Dumasari, M.Si yang merupakan staf pengajar tetap fakultas pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu.

Menurut Ir. Dumasari, M.Si., salah satu strategi pemberdayaan yang mereduksi kemiskinan petani adalah penganekaragaman mata pencaharian atau livelihood diversification.

"Pengembangan livelihood diversification dapat berpengaruh signifikan apabila dilengkapi dengan penguatan perilaku mandiri yang adaptif, produktif, kreatif, inovatif dan ramah lingkungan," ujar Ir. Dumasari, M.Si.

Penganekaragaman mata pencaharian itu, lanjut Ir. Dumasari, M.Si., merupakan alternatif solusi potensial untuk menologng masyarakat terbebas dari persoalan keterdesakan ekonomi.

Pernyataan tersebut relevan dengan persoalan yang dihadapi oleh petani terutama saat paceklik dan gagal panen.

"Fungsi livelihood diversification bagi petani efektif sebagai katup pengaman saat mengalami kerawanan pendapatan. Petani mengatasi resiko gagal panen di pedesaan Banyumas, Provinsi Jawa Tengah melalui diversifikasi mata pencaharian on farm, off farm, dan non farm," katanya.

Pengembangan livelihood diversification dilakukan oleh petani dengan mengelola usaha mikro kerajinan berbahan limbah pertanian. Metode itu tidak lepas dari pengelolaan sumberdaya untuk memadukan usaha on farm, off farm dan non farm.

Penelitian yang dilakukan selama dua tahun di Purbalingga Wetan itu, Ir. Dumasari, M.Si melihat petani pengrajin cococraft merupakan salah satu komunitas yang telah mengembangkan diversifikasi mata pencaharian dengan mengelola usaha mikro produktif on farm dan off farm.

Meskipun demikian, kata Ir. Dumasari, M.Si., ragam permasalahan masih dihadapi oleh pengrajin cococratf . 

"Deretan permasalahan yang dimaksud mencakup keterbatasan modal produksi, adopsi teknologi minim, desain motif produk monoton, standar mutu rendah, kenaikan harga lamban dan ketidakmampuan mengolah limbah produksi sebagai bahan baku produk bernilai tambah," tandas Ir. Dumasari, M.Si.

Permasalahan yang menarik untuk dikaji, lanjut Ir. Dumasari, M.Si., yaitu pemberdayaan terkait kemampuan pengrajin dalam mengembangkan diversifikasi produk pada usaha mikro cococraft agar lebih menguntungkan.

"Diversifikasi produk dapat dilakukan pengrajin melalui pengolahan limbah cococraft menjadi produk bernilai tambah.  Limbah cococraft memiliki potensi ekonomi bila diolah menjadi produk bernilai jual di berbagai segmen pasar," ungkapnya.

Limbah cococraft dari sabut kelapa bermanfaat menjadi babah baku cocopeat, yang berfungsi sebagai media semai dan media tanam alternatif.  Kendati demikian, pengrajin cococraft di Purbalingga Wetan, tambah Ir. Dumasari, M.Si., belum mengolah limbah cococraft menjadi produk bernilai tambah seperti cocodust sebagai media semai atau media tanam.

"Pengrajin masih membiarkan limbah cococraft tertumpuk dan terserak di sekitar bengkel kerja. Jika dibiarkan maka dalam waktu tertentu limbah rawan menjadi bahan polutan yang mencemari lingkungan sekitar," tegas Ir. Dumasari, M.Si.

Produksi media semai cocodust merupakan bagian penting dari pengembangan diversifikasi produk berbasis sumberdaya lokal untuk memberdayakan pengrajin cococraft di Purbalingga Wetan. 

Dengan disertasinya tersebut, Ir. Dumasari, M.Si., dinyatakan lulus oleh tim penguji dengan promotor Profesor Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc. F.Trop dengan pembimbing pendamping Dr. Ir. Ismangil, M.S dan Budi Dharmawan, S.P.,M.Si., Ph.D sebagai Doktor pertama dari program Pascasarjana Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto.(*)

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait